Siapakah Sumber Malapetaka

PERTANYAAN KAFIRIN

Siapakah sumber malapetaka?

  1. Sumber malapetaka adalah Syaitan di “dalam” diri manusia atau gangguan (Qs.38:41).

    Hal ini bertentangan dengan:

  2. Sumber malapetaka adalah kita sendiri (Qs.4:79).
  3. Sumber malapetaka adalah Allah sendiri (Qs.4:78).

Disini sudah ada 3 pertentangan, jadi total sudah ada 104 pertentangan.

 

JAWABAN IZZATAL ISLAM

AYAT – AYAT YANG DIMAKSUD OLEH KAFIRIN :

  1. (Qs.38:41), Dan ingatlah akan hamba Kami Aiyub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”.
  2. (Qs.4:79), Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.
  3. (Qs.4:78), Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah:
    “Semuanya (datang) dari sisi Allah”.
    Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?

 

PENJELASAN AYAT OLEH IZZATAL ISLAM :

Terdapat 3 kalimat yang dianggap kontradiksi dalam ayat tersebut diatas, yaitu;

  1. “Sesungguhnya aku diganggu syaitan”
  2. “dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri”
  3. “Semuanya (datang) dari sisi Allah”

 

Sebenarnya dan sesungguhnya semuanya dan segalanya itu datang dari Allah SWT. Hidup dan mati, senang dan susah, bahagia dan derita, kaya dan miskin, makmur dan melarat, damai dan bencana itu semuanya datang dari sisi Allah. Tidak ada seorang pun manusia yang bisa menciptakan kehidupan, kesenangan, kebahagiaan, kekayaan dan kemakmuran untuk dirinya sendiri. Dan juga tidak ada seorang pun manusia yang bisa lari dari kematian, kesengsaraan, penderitaan, kemiskinan, kemelaratan dan bencana kecuali dengan izin dari pada Allah. Hal ini tentu didapatkan pada firman Allah yang agung pada surat An-Nisa ayat 78, yaitu “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun.

Kemudian, Allah yang Maha Perkasa dan Bijaksana bisa berbuat segala sesuatu menurut apa yang dikehendakinya pada waktu dan keadaan yang dikehendakinya pula. Segalanya bisa terjadi bila Allah telah menghendaki, “apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (Qs.36:82).

Bila yang dikehendaki Allah adalah kebaikan maka kebaikanlah yang terjadi, jika yang dikehendaki Allah adalah kejahatan maka kejahatanlah yang terjadi. Kebaikan yang dikehendaki Allah tidak berganti dengan kejahatan, dan begitu pula sebaliknya kejahatan yang dikehendaki tidak akan berganti dengan kebaikan. Kepada siapakah kebaikan itu diberikan? Dan kepada siapa pula diberikan kejahatan? Itu pun hak Allah dan hanya Dia sendiri yang tahu. Namun satu hal yang pasti bahwa Allah tidak berlaku aniaya kepada hambaNya, artinya bahwa atas limpahan anugerah dan kurniaNya maka Allah tidak memberikan kejahatan kepada hambaNya yang baik-baik. Tetapi demi keadilan dan keagunganNya Allah bisa memberi kejahatan kepada hambaNya yang melakukan perbuatan jahat dan bisa juga memberikan kebaikan.

Jika Allah memberikan kebaikan kepada hambaNya maka itu adalah semata-mata rahmat dan kurniaNya, dan inilah maksud dari firman Allah pada surat An-Nisa ayat 79 “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah. Namun jika Allah memberikan kejahatan seperti bencana dan malapetaka kepada hambaNya maka itu adalah karena diminta oleh hambaNya, dan inilah maksud dari firman Allah pada surat An-Nisa ayat 79 “dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Pada hakikatnya bahwa segala bencana itu terjadi dari pada Allah SWT, bencana itu terjadi sebagai hukuman bagi hambaNya, hukuman itu diberikan karena hambaNya melakukan maksiat, karena kemaksiatan itu dilakukan oleh hamba dan itulah penyebab datangnya malapetaka maka tidak salah jika Allah mengatakan dalam firmanNya “dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Kenapa pada ayat dikatakan “kesalahan dirimu sendiri” karena bencana itu menimpa karena kemaksiatan yang kamu lakukan, jadi seolah-olah kamu yang membuat bencana itu sendiri.

Kenapa manusia melakukan kemaksiatan karena kadangkala manusia tidak tahu bahwa itu kemaksiatan, kenapa tidak tahu? Karena yang terlihat dimatanya adalah suatu keindahan yang boleh dan bahkan baik untuk dilakukan. Hal ini terjadi karena tipuan syaitan yang terkutuk. Oleh karena itu maka Nabi Aiyub memanggil Tuhannya karena takut bahwa godaan syaitan bisa mendatangkan murka Tuhannya. Jadi dalam masalah ini juga bukan syaitan yang mendatangkan bencana dan malapetaka, tetapi yang mendatangkan bencana dan malapetaka hanya Allah SWT, tetapi bencana itu didatangkan karena ulah syaitan sang penggoda, maka dikatakan syaitan penyebab datang malapetaka.

Jadi 3 ayat yang tersebut diatas sesungguhnya tidak kontradiksi dan dapat dirangkum dalam satu kesimpulan yaitu; bahwa syaitan adalah makhluk durhaka dan penggoda, godaannya bila diikuti bisa mendatangkan murka Ilahi, maka manusia yang termakan godaan syaitan akan melakukan maksiat dan dosa, maksiat dan dosa inilah pengundang datangnya bencana. Bencana itu datangnya dari Tuhan, penyebabnya adalah syaitan penggoda dan manusia pendosa.

Dengan demikian maka anggapan kontradiksi ayat-ayat tersebut diatas karena si Rajagukguk belum mengerti bahasa Al-quran. Dengan penjelasan ini mudah-mudahan ia paham dan mau mengakui kebenaran Islam walau tidak mau memeluk agama Islam.

Firman Allah SWT :

  1. Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. 17 : 81)
  2. Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Qs. 2:109)
  3. Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya”.(Qs. 3:12)

Posted on 3 Oktober 2009, in Membungkam St. Jodi. L. Parson. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: