Perjanjian Baru

MAURICE BUCAILLE

MAURICE BUCAILLE Adalah Seorang Dokter Berkebangsaan Perancis Yang Mendalami Bahasa Arab Agar Benar-Benar Mampu Memahami Teks Asli Al-Quran. Sejak Diterbitkannya Bibel, Quran Dan Sains Modern, Pada Tahun 1976 (Best-Seller Diseluruh Dunia Muslim), Dokter Bucaille Memperoleh Reputasi Mengesankan Sebagai Pengulas Kitab-Kitab Suci, Terutama Al-Quran

PENGANTAR KEPADA PERJANJIAN BARU

  1. PENGANTAR

Banyak pembaca Injil yang merasa bingung bahkan ragu-ragu jika mereka memikirkan arti beberapa hikayat atau mengadakan perbandingan antara versi-versi yang bermacam-macam mengenai suatu kejadian yang diceritakan dalam beberapa Injil. Hal tersebut adalah suatu konstatasi yang diberikan oleh R.P. Rouguet dalam bukunya: Pembimbing kepada Injil (Initiation al’Evangile) cetakan Seuil 1973. Dengan pengalamannya selama beberapa tahun sebagai redaktur suatu mingguan Katolik yang ditugaskan untuk menjawab pembaca-pembaca yang mendapatkan kesulitan memahami teks Injil, R.P. Rouguet dapat mengukur pentingnya kebingungan para pembaca. Ia merasakan bahwa permintaan penjelasan dari para pembaca yang datang dari lapisan masyarakat dan kebudayaan orang bermacam-macam adalah mengenai teks yang kabur, yang tak dapat dimengerti, yang kontradiksi, absurd dan memalukan. Tidak ada syak lagi bahwa membaca teks Injil seluruhnya dapat membingungkan umat Kristen. 

Pengamatan semacam ini adalah baru; buku R.P. Rouguet diterbitkan pada tahun 1973. Pada masa-masa yang belum terlalu lama, kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui ayat-ayat yang dipilih oleh pendeta, dibacakan di waktu sembahyang atau ceramah agama. Di luar kaum Protestan, jarang sekali orang membaca seluruh Injil, di luar kesempatan-kesempatan tersebut.

Buku-buku pelajaran agama hanya memuat kutipan-kutipan. Tak ada teks lengkap yang beredar. Pada waktu saya menjadi siswa sekolah menengah katolik, saya selalu memiliki buku-buku karangan Virgile dan Plato, tetapi tidak memiliki Perjanjian Baru, pada hal teks Yunani Perjanjian Baru sangat berfaedah. Baru kemudian, setelah terlambat, saya baru tahu mengapa kami tidak disuruh menterjemahkan kitab suci Kristen. Pokoknya, terjemahan kitab itu akan mendorong kami memajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Hal-hal yang dipertanyakan oleh pikiran yang kritis setelah membaca Injil secara menyeluruh telah mendorong Gereja untuk campur tangan dan membantu para pembaca mengatasi kesulitan mereka. R.P. Rouguet berkata: “Banyak orang Kristen yang memerlukan belajar membaca Injil,” mungkin orang setuju atau tidak setuju terhadap kata-kata tersebut, akan tetapi jasa seorang yang menghadapi problema-problema yang rumit amat diperlukan. Sangat disayangkan bahwa kita tidak selalu menjumpai sikap semacam itu dalam buku-buku mengenai Wahyu Kristen yang banyak jumlahnya.

Dalam edisi-edisi Bibel yang disediakan untuk awam, biasanya terdapat kata pengantar yang menyajikan beberapa uraian dengan tujuan untuk meyakinkan para pembaca bahwa Injil tidak menimbulkan persoalan mengenai personnya, penulis-penulis fasal-fasalnya, keaslian teksnya dan kebenaran isinya, padahal banyak pengarang-pengarang yang tak terkenal, dan banyak pula keterangan yang memberi kesan benar dan pasti padahal hanya merupakan hipotesa; di antara keterangan-keterangan tersebut ada yang mengatakan bahwa pengarang Injil tertentu menyaksikan kejadian-kejadian yang diriwayatkannya padahal buku-buku para ahli mengatakan sebaliknya. Perbedaan waktu antara hidupnya Nabi Isa dengan timbulnya Injil-Injil dilukiskan sangat singkat. Ada usaha untuk meyakinkan orang banyak, bahwa hanya ada satu naskah semenjak tradisi lisan, padahal perubahan-perubahan teks telah dibuktikan oleh para ahli. Memang ada yang membicarakan kesulitan penafsiran, tetapi orang itu tergelincir dalam kontradiksi-kontradiksi yang menyolok. Dalam kamus kecil yang disusun di akhir edisi Bibel tersebut, yaitu kamus yang dimaksudkan untuk menambah kata-kata pendahuluan yang meyakinkan tadi, sering terdapat bahwa kekeliruan, kontradiksi atau kesalahan-kesalahan yang besar dihilangkan atau ditutup dengan alasan apologetik yang lihai. Keadaan semacam itu adalah menyedihkan karena menunjukkan sifat yang menyesatkan.

Hal-hal yang saya sebutkan di atas tentu mengherankan para pembaca yang belum pernah memikirkan hal-hal tersebut. Oleh karena itu sebelum memasuki pembicaraan yang lebih dalam, saya ingin menyajikan contoh yang menyolok.

Matius dan Yahya tidak pernah membicarakan kenaikan Al Masih ke langit. Lukas menempatkan kejadian itu pada hari Yesus dihidupkan kembali. Hal ini ia sebutkan dalam Injilnya, padahal dalam fasal: “Perbuatan Para Rasul” yang ia sendiri menulisnya, kejadian tersebut ditempatkan empat puluh hari kemudian. Adapun Markus, ia menyebutkannya dengan tidak pakai waktu, dalam satu paragraf yang sekarang sudah dianggap tidak autentik lagi. Dengan begitu maka kenaikan Al Masih ke langit tidak mempunyai dasar yang kokoh dalam Perjanjian Baru. Walaupun begitu para ahli tafsir menganggap soal ini sangat enteng. 

A. Tricot, dalam bukunya: Kamus Kecil Tentang Perjanjian Baru (Petit Dictionnaire du Nouveau Testament) dari Bibel Crampon, yaitu suatu buku yang tersebar luas (terbit tahun 1960) tidak memuat artikel Ascension (kenaikan Al Masih). Synopse des Evangiles (Ringkasan Injil-Injil) karangan R. P. Benoit dan Boismard, gurubesar-gurubesar di sekolah Bibel di Yerusalem (cetakan 1972) mengatakan pada jilid 11 halaman 451 dan 452 bahwa kontradiksi antara Lukas dalam Injilnya dan Lukas dalam fasal Perbuatan Para Rasul dapat diterangkan dengan “artifice Litteraire” (penipuan sastra). Apakah artinya ini? 

Nampaknya R.P. Rouguet dalam: Pengantar kepada Injil (Initiation a Evangile) cetakan 1973 halaman 187 tidak tertarik dengan (penipuan sastra) tersebut. Akan tetapi penjelasan yang ia kemukakan adalah aneh, seperti berikut: “Di sini, seperti dalam beberapa kasus yang sama, persoalannya dapat dipecahkan, kecuali jika seseorang memahami isi kitab suci secara harafiah dan melupakan arti keagamaannya. Di sini soalnya bukan untuk memecahkan fakta-fakta dalam simbolisme yang tidak konsisten tetapi untuk menyelidiki maksud teologik dari mereka yang mengungkapkan rahasia-rahasia, dengan memberikan kepada kita fakta yang dapat diterima pancaindera dan alamat-alamat yang sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan badaniah daripada jiwa kita.” 

Bagaimana kita dapat merasa puas dengan tafsiran semacam itu? Cara-cara apologi seperti itu hanya sesuai dengan orang-orang yang bersifat dogmatis! Tetapi pernyataan R.P. Rouguet penting karena ia mengatakan bahwa dalam Injil terdapat hal-hal yang sama dengan persoalan kenaikan Nabi Isa ke langit. Oleh karena itu kita perlu membicarakan persoalan ini secara menyeluruh, mendalam dan obyektif. Adalah bijaksana jika kita mencari penjelasan dalam pembahasan tentang kondisi waktu Injil-Injil itu ditulis dan suasana keagamaan pada waktu itu. Pengungkapan perubahan-perubahan redaksi asli semenjak menjelmanya dari tradisi lisan, perubahan-perubahan teks selama dialihkan dari generasi ke generasi sampai hari ini, telah menjadikan kita tidak terlalu terperanjat dalam menghadapi bagian-bagian yang kabur yang tidak dimengerti, yang keliru, yang menjurus untuk menjadi absurd atau tidak sesuai dengan realitas-realitas yang telah dibuktikan oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Kenyataan-kenyataan semacam itu menunjukkan partisipasi manusia dalam menyusun Injil dan menunjukkan pula perubahan-perubahan teks yang terjadi kemudian.

Semenjak beberapa puluh tahun telah timbul kecenderungan untuk mempelajari kitab-kitab suci-dengan jiwa penyelidikan yang obyektif. Dalam suatu karangan baru yang berjudul “Foi en la Resurrection, Resurrection de la foi” (Kepercayaan bahwa Yesus hidup kembali, Kehidupan kembali dari kepercayaan). R. P. Kannengiesser, Guru Besar pada Institut Katolik di Paris memberikan gambaran tentang perubahan yang mendalam ini sebagai berikut: “Orang-orang yang percaya hampir tidak mengetahui bahwa suatu revolusi dalam metode penafsiran Bibel telah terjadi semenjak periode Paus Pius XII (1939-1958). Revolusi yang dibicarakan itu memang baru. Revolusi tersebut dimulai dengan memperpanjang waktu pendidikan-pendidikan pemeluk agama Kristen, sedikitnya mengenai bahan-bahan yang diajarkan oleh ahli-ahli Injil yang memiliki jiwa pembaharuan. Suatu pembalikan terhadap perspektif yang telah sangat mantap tentang tradisi para pendeta, telah berjalan sedikit atau banyak dengan timbulnya revolusi metode menafsirkan ini.”

R.P. Kannengiesser memperingatkan kita “Jangan memahami secara harafiah” segala hal yang diceritakan oleh Injil tentang Yesus, karena “Injil itu adalah fasal-fasal yang ditulis pada keadaan-keadaan tertentu’? atau merupakan “fasal-fasal perjuangan” yang pengarang-pengarangnya bermaksud untuk memelihara dengan tulisan segala dongengan masyarakat mereka tentang Yesus. Mengenai dihidupkannya Yesus kembali, yaitu hal yang dibicarakan dalam bukunya, ia menandaskan bahwa tak ada pengarang Injil yang dapat mengatakan dirinya sebagai saksi mata.

Hal ini berarti bahwa, mengenai masa kenabian Yesus, keadaannya juga begitu, yakni tak ada pengarang Injil yang menjadi saksi mata, oleh karena tak ada seorang rasul (Hawari) selain Yudas,7 yang berpisah dari gurunya (yakni dari Yesus) dari semenjak mereka mengikutinya sampai akhir penjelmaannya diatas bumi (Padahal para penulis Injil bukan Hawari). 

Dengan begitu, maka kita sudah menjadi terlalu jauh dari sikap tradisional yang masih dipegang dengan khusuknya oleh Konsili Vatikan II, baru sepuluh tahun yang lalu; sikap tradisional tersebut juga masih terus nampak dalam buku-buku modern yang ditulis untuk awam. Tetapi sedikit demi sedikit kebenaran itu nampak juga.  

Memang tidak mudah untuk menangkap kebenaran selama tradisi yang sudah turun temurun lama itu tetap dipertahankan. Jika seseorang ingin melepaskan diri dari tradisi tersebut ia harus meneliti permasalahannya dari dasarnya, artinya ia harus meneliti keadaan-keadaan yang meliputi lahirnya agama Kristen.

II. MENGINGAT KEMBALI SEJARAH

AGAMA YAHUDI KRISTEN (JUDEO-CHRISTIANISME) DAN PAULUS

Kebanyakan umat Kristen mengira bahwa Injil-Injil itu ditulis oleh saksi-saksi mata yang menyaksikan kehidupan Yesus secara langsung, dan dengan begitu mereka itu merupakan saksi-saksi yang tak dapat disangsikan lagi mengenai kejadian-kejadian yang memenuhi kehidupannya dan dakwahnya. Dengan menghadapi jaminan-jaminan tentang kebenaran Injil, dapatkah orang mempersoalkan ajaran-ajaran yang dapat diambil dari Injil tersebut? Dapatkah orang ragu-ragu tentang kebenaran kelembagaan Gereja yang didirikan menurut petunjuk-petunjuk umum yang diberikan oleh Yesus sendiri? Cetakan-cetakan Injil sekarang yang diperuntukkan bagi orang awam memuat komentar-komentar yang dimaksudkan untuk menyebarluaskan idea-idea tersebut diantara mereka.

Kepada pengikut-pengikut agama yang setia, ditonjolkan aksioma bahwa para pengarang Injil adalah saksi-saksi mata. Bukankah Yustin pada abad II mengatakan bahwa Injil-Injil itu adalah memoir (catatan-catatan) para Rasul (sahabat-sahabat Nabi Isa). Kemudian diberikan pula keterangan yang terperinci mengenai para pengarang Injil sehingga orang tidak ragu-ragu lagi akan kebenarannya. Umpamanya: Matius adalah seorang yang sangat terkenal “pegawai bea Cukai di Kafrna’um, “Ia faham bahasa Aramaik dan bahasa Yunani. Markus disebutkan sebagai teman Petrus; sudah terang bahwa Markus bukan saksi mata yang melihat Yesus sendiri.

Lukas adalah seorang tabib, sehingga Paulus mengatakan bahwa keterangan-keterangan tentang Lukas tersebut sangat tepat. Yahya adalah rasul (sahabat) yang selalu dekat dengan Yesus, anak dari Zebede, seorang nelayan di danau Genesareth.

Penyelidikan-penyelidikan modern tentang permulaan agama Kristen menunjukkan bahwa penyajian seperti tersebut di atas tidak sesuai dengan kenyataan. Kita nanti akan mengetahui siapa pengarang-pengarang Injil itu. Mengenai periode beberapa puluh tahun setelah Yesus tak ada lagi, kita harus tahu bahwa yang terjadi tidak seperti apa yang dikatakan, dan bahwa kunjungan Petrus ke Roma tidak mendirikan Gereja Katolik.

Sebaliknya antara waktu Yesus meninggalkan bumi ini sampai pertengahan abad II, yakni selama lebih dari satu abad telah terjadi perjuangan antara dua aliran yakni agama Kristen menurut Paulus dan agama Yahudi-Kristen; dengan pelan-pelan aliran Paulus mendesak aliran asli yakni agama Yahudi-Kristen.

Banyak karangan-karangan yang muncul pada beberapa dasawarsa yang akhir ini dan yang berdasarkan penemuan-penemuan yang terungkap di zaman kita, telah memungkinkan kita memahami pikiran-pikiran modern yang disajikan oleh Kardinal Danielou. Artikel yang diterbitkan pada bulan- Desember 1967 dalam majalah Etude (penyelidikan) berjudul: Suatu pandangan baru tentang asal agama Kristen atau Yudeo-Christianisme. Dengan mengutip karangan-karangan yang terdahulu, ia menjelajahi sejarah dan memungkinkan kita untuk menempatkan Injil dalam konteks yang sangat berbeda dengan apa yang dapat kita baca dalam uraian-uraian yang ditulis untuk kaum awam. Di bawah ini kita cantumkan ringkasan pikiran-pikiran pokok dalam artikel tersebut, dengan kutipan-kutipan:

Sesudah Yesus, tidak ada lagi kelompok kecil para rasul (sahabat) yang merupakan suatu “sekte Yahudi yang setia kepada ibadat dan upacara temple.” Tetapi ketika banyak orang-orang baru yang masuk agama Kristen dari agama Kafir (Pagan), mereka mengusulkan suatu aturan Khusus; konsili Yerusalem tahun 49 M membebaskan mereka dari khitan dan upacara-upacara Yahudi. Banyak orang-orang, Yahudi-Kristen yang tidak setuju dengan perlakuan khusus ini. Kelompok ini memisahkan diri dan Paulus. Malahan telah terjadi bentrokan antara Paulus dan kelompok Yahudi Kristen pada tahun 49 M itu juga di Antioch. Bagi Paulus, khitan, liburan hari Sabtu dan upacara di temple tidak perlu lagi, baik untuk pengikut Yesus atau untuk orang Yahudi sendiri. Agama Kristen harus membebaskan diri dari hubungan politico religius dengan agama Yahudi, dan membuka diri bagi orang gentil (yang bukan Yahudi).

Dalam pandangan orang Yahudi Kristen yang tetap setia, kepada ajaran Yahudi, Paulus adalah orang yang berkhianat. Dokumen-dokumen mereka mengatakan bahwa Paulus adalah musuh dan mendakwanya dengan taktik dua muka; tetapi sampai tahun 70 M Yudeo—Christianisme merupakan “mayoritas dalam gereja” dan “Paulus merupakan orang yang terasing.” Ketua daripada masyarakat Yudeo-Christian adalah Jack, seorang kerabat Yesus. Jack didampingi Petrus dan Yahya. Jack dapat dianggap sebagai tiangnya Yudeo-Christianisme, yang sengaja setia kepada agama Yahudi menentang agama Kristen yang dipimpin Paulus. Keluarga Yesus memegang peranan dalam gereja Yudeo-Christian di Yerusalem. Pengganti Jack adalah Simon, anak Cleopas, saudara sepupu Yesus. Kardinal Danielou mengutip tulisan-tulisan Yudeo Christian yang mengungkapkan pandangan kelompok Yudeo Christian yang terbentuk sekitar para rasul (sahabat) terhadap Yesus: Injil orang-orang Ibrani (mengenai masyarakat Yahudi Kristen di Mesir), Hypotesa karangan Clement, rasa syukur Clement (Reconnaissance de Clement), Apocalypse Jack dan Injil Thomas.8   Orang-orang Yahudi Kristen itulah yang menulis dokumen-dokumen Kristen kuno yang disebutkan secara terperinci olel Kardinal Danielou.

“Pada abad I M, agama Yahudi Kristen tidak hanya di Yerusalem dan Palestina, akan tetapi di tempat-tempat lain juga, yakni sebelum aliran Paulus tersiar. Hal ini memberi penerangan mengapa surat-surat Paulus selalu menyebutkan adanya konflik,” memang di mana-mana Paulus mendapat rintangan yang sama, di Galitea, Korintus, Kolose, Roma dan Antioch.

Di tanah pesisir Siria Palestina, dari Gaza sampai Antioch, orang-orang menganut agama Yahudi Kristen, seperti yang diterangkan oleh surat-surat para rasul dan tulisan-tulisan Clement.”

Asia kecil adanya pengikut-pengikut agama Yahudi Kristen telah dibuktikan oleh surat untuk orang Galitia dan surat untuk orang Kolose, keduanya dikirim oleh Paulus. Tulisan-tulisan Papias memberi gambaran tentang agama Yahudi Kristen di Phrygie. Di negeri Yunani, khususnya di Apollos, surat Paulus kepada orang Korintus menunjukkan tersiarnya agama Yahudi Kristen. Roma merupakan suatu pusat penting, menurut surat Clement dan Pendeta dari Hernias. Di Suetone dan Tacite, orang-orang Kristen merupakan sekte Yahudi. Kardinal Danielou berpendapat bahwa agama Kristen yang masuk Afrika, mula-mula adalah agama Yahudi Kristen. Ini dikuatkan oleh Injil orang Ibrani dan tulisan-tulisan Clement dari Alexandria.

Adalah sangat penting untuk mengetahui fakta-fakta tersebut agar kita dapat memahami bahwa Injil-lnjil itu ditulis pada suasana perjuangan antara dua kelompok. Penyebaran teks yang kita punyai sekarang, setelah diadakannya perubahan-perubahan dalam teks sumbernya, dimulai sekitar tahun 70 M, yaitu waktu bentrokan antara kedua kelompok yang bersaingan. Pada waktu itu kelompok Yahudi Kristen lebih banyak. Tetapi dengan terjadinya Perang Yahudi (melawan Kerajaan Romawi) dan jatuhnya Yerusalem pada tahun 70, keadaan menjadi terbalik.

Kardinal Danielou menerangkan kemunduran ini sebagai berikut:

“Karena orang-orang Yahudi tidak dipercaya lagi di dalam Kerajaan Romawi, maka orang-orang Kristen menjauhkan diri dari mereka. Agama Kristen seperti yang tersiar di negeri Yunani mendapat kemajuan. Paulus mendapat kemenangan sesudah ia sendiri mati. Agama Kristen memisahkan diri dari agama Yahudi baik secara sosiologik maupun secara politik, dan menjadi kelompok ketiga, yakni di samping Yahudi dan Kafir. Tetapi meskipun begitu sampai pemberontakan Yahudi yang terjadi pada tahun 140, agamaYahudi Kristen masih dominan secara kebudayaan.”

Dari tahun 70 sampai kira-kira tahun 110, timbullah empat Injil, yakni yang ditulis oleh Markus, Matius, Lukas dan Yahya. Injil itu tidak merupakan dokumen Kristen yang pertama; sebelumnya telah ada surat-surat Paulus. Menurut O. Culmann, Paulus menulis surat kepada orang Tesalonika pada tahun 50. Tetapi sudah terang, Paulus meninggal beberapa tahun sebelum Injil Markus selesai ditulis.

Paulus adalah seorang yang banyak dipersoalkan dan dianggap pengkhianat kepada ajaran Yesus oleh keluarga Yesus sendiri, dan oleh rasul-rasul (sahabat-sahabat Nabi Isa) yang tinggal di Yerusalem dengan Jack. Paulus dianggap telah menyiarkan ajaran-ajarannya sendiri dan merugikan para sahabat-sahabat yang dikumpulkan oleh Yesus sendiri untuk menyiarkan ajaran-ajarannya. Oleh karena Paulus tidak pernah bertemu dengan Yesus, maka ia memberi dasar untuk perbuatannya dengan mengatakan bahwa Yesus yang telah hidup kembali setelah di kubur, nampak kepadanya di jalan ke Damascus. Kita dapat bertanya-tanya bagaimana yang mestinya terjadi dalam agama Kristen seandainya Paulus tidak muncul; tentu ada bermacam-macam hypotesa. Akan tetapi, dalam hal yang mengenai Injil-Injil, kita dapat mengatakan bahwa jika suasana bentrokan antara dua kelompok yang disebabkan oleh ajaran Paulus yang menyeleweng itu tiada ada, tentunya kita tidak akan menemukan Injil-lnjil seperti yang ada sekarang. Karena ditulis pada waktu pertentangan antara dua kelompok, maka tulisan-tulisan perjuangan (ecrits de Combat) seperti yang dinamakan oleh R.P. Kannengiesser, telah muncul dari tulisan-tulisan mengenai Yesus ketika agama Kristen menurut ajaran Paulus telah menang dan sedang menyusun kumpulan teks-teks resmi atau Canon, yaitu teks yang menghukum segala teks lain yang tidak sesuai dengan garis yang dipilih oleh Gereja serta menganggapnya sebagai bertentangan dengan ortodoksi.

Setelah pengikut agama Yahudi Kristen tidak lagi rnerupakan kelompok yang berpengaruh, mereka itu biasanya dinamakan “Yudaisants” yakni orang-orang yang condong kepada agama Yahudi. Kardinal Danielou menulis:

“Orang-orang Yudeo Kristen terputus dari Gereja Besar yang membebaskan diri dari pengaruh Yahudi, dan mereka itu musnah dengan cepat di Barat. Akan tetapi mereka masih terdapat di Timur pada abad III dan IV, khususnya di Palestina, Arabia, Yordania, Syria dan Mesopotamia (Irak). Di antara mereka banyak yang memeluk agama Islam, yang memang merekalah pewaris agama Kristen dari suatu segi, lainnya mengikuti ortodoksi Gereja Besar dengan mempertahankan kebudayaan Semit;” seperti yang masih terdapat di Ethiopia dan Babylon.

III. INJIL EMPAT, SUMBER-SUMBER DAN SEJARAHNYA

Dalam karangan-karangan yang ditulis pada permulaan sejarah agama Kristen, Injil baru disebutkan, lamasesudah surat-surat Paulus. Bukti-bukti tentang adanya lnjil-Injil baru terdapat pada pertengahan abad II M, dan lebih tepat lagi sesudah tahun 140, padahal banyak pengarang-pengarang Kristen dari permulaan abad II sudah mengetahui adanya surat-surat Paulus.

Pernyataan-pernyataan yang dimuat dalam l’Introduction a la Traduction oecumeniq de la Bible Nouveau Testament (Pengantar kepada terjemahan bersama Protestant, Katolik – Perjanjian Baru) cetakan tahun 1972 tersebut, perlu diingat betul-betul, dan perlu diingat pula bahwa buku Pengantar tersebut adalah hasil karya kolektif yang mengumpulkan sarjanae-sarjana Protestant dan Katholik yang jumlahnya lebih dari 100 orang.

Injil yang kemudian menjadi resmi atau Kanonik, baru diketahui lama sesudah itu, meskipun redaksinya sudah selesai pada permulaan abad II. Menurut terjemahan ekumenik orang mulai menyebutkan riwayat-riwayat Injil mulai pertengahan abad II, “akan tetapi selalu sukar untuk menetapkan apakah riwayat-riwayat itu disebutkan menurut teks tertulis atau hanya menurut ingatan-ingatan fragmen daripada tradisi lisan.”

“Sebelum tahun 140 tak ada bukti-bukti bahwa ada orang yang mengetahui tentang kumpulan fasal-fasal Injil; begitulah yang kita baca dalam komentar mengenai terjemahan Bibel.” Keterangan tersebut di atas bertentangan dengan apa yang ditulis oleh A. Tricot (tahun 1960) dalam komentar terjemahan Perjanjian Baru. “Dari pagi-pagi semenjak permulaan abad II, telah ada kebiasaan memakai perkataan Injil, untuk menunjukkan fasal-fasal yang disekitar tahun 150 Yustin menamakan memoar para Rasul.” Pernyataan yang semacam itu sangat sering sehingga akibatnya orang awam mempunyai gambaran yang keliru tentang waktu pengumpulan Injil.

Injil-Lnjil menjadi suatu kesatuan satu abad setelah Yesus tidak ada lagi, dan bukan sebelum itu. Terjemahan Ekumenik Bibel mengira-ngirakan bahwa Injil yang empat itu mendapat status sebagai Injil Kanonik sekitar tahun 170.

Pernyataan Yustin yang mengatakan bahwa para pengarang Injil adalah para rasul (sahabat Yesus) tak dapat lagi diterima pada waktu ini, seperti yang akan kita lihat nanti mengenai waktu penyusunan Injil-Injil. A. Tricot menerangkan bahwa Injil Matius, Markus dan Lukas telah disusun sebelum tahun 70. Pernyataan tersebut tidak dapat diterima kecuali yang mengenai Markus. Juru tafsir, A. Tricot ini, seperti juru-juru tafsir lainnya merasa berbuat amal kebajikan untuk melukiskan bahwa para penulis Injil adalah rasul-rasul atau sahabat-sahabat Yesus, dan dengan begitu maka ia memajukan waktu penyusunannya sehingga dekat kepada waktu hidupnya Yesus. Adapun Yahya yang oleh A. Tncot digambarkan sebagai seorang yang hidup sampai tahun 100, orang-orang Kristen biasa membaca namanya disebutkan dekat Yesus dalam peristiwa-peristiwa penting, akan tetapi sangat sukar untuk memastikan bahwa orang itu adalah pengarang Injil yang membawa nama Injil Yahya. Rasul Yahya (sebagai juga Matius), bagi A.Tricot dan beberapa ahli tafsir lainnya adalah saksi yang cakap dan boleh dipercaya mengenai kejadian-kejadian yang diriwayatkannya; tetapi kebanyakan ahli kritik tidak menerima hypotesa yang mengatakan bahwa sahabat Yahya itu adalah pengarang Injil keempat. Tetapi jika empat Injil itu tidak dapat dianggap secara memuaskan sebagai memoar para rasul atau para sahabat Yesus, darimanakah asal Injil-Injil itu?

O.Culmann dalam bukunya: Perjanjian Baru (1967), Presses Universitaire de France, menulis bahwa “para pengarang Injil adalah juru bicara dari masyarakat Kristen asli yang menentukan tradisi lisan; selama 30 tahun atau 40 tahun, Injil hanya ada dalam bentuk tradisi lisan; tradisi meriwayatkan kata-kata atau hikayat-hikayat yang terpisah-pisah. Para pengarang Injil menghubungkan hal-hal yang terpisah itu, masing-masing menurut caranya dan seleranya serta perhatian teolognya yang khusus. Pengelompokan kata-kata Yesus sebagai rangkaian riwayat-riwayat dengan kata-kata penghubung yang kabur seperti: sesudah itu, selekasnya, dan lain-lain yang terdapat dalam Injil-Injil Sinoptik9 hanya merupakan susunan literer dan tidak mempunyai dasar sejarah.”

Pengarang tersebut meneruskan: “Kita harus ingat bahwa yang menjadi pedoman kelompok primitif (asli) dalam menentukan tradisi mengenai kehidupan Yesus bukan perhatian terhadap sejarah hidup Yesus, akan tetapi kebutuhan untuk berdakwah untuk pendidikan dan untuk beribadah. Para rasul menggambarkan kebenaran kepercayaan yang mereka dakwahkan dengan cara meriwayatkan kejadian-kejadian dalam kehidupan Yesus. Khotbah-khotbah mereka itulah yang menentukan hikayat-hikayat tersebut. Kata-kata Yesus diriwayatkan khususnya dalam pengajaran kateketiknya Gereja asli.

Para penyusun “Terjemahan Ekumenik dari pada Bibel” tidak menyebutkan mengenai penyusunan Bibel kecuali terbentuknya tradisi lisan di bawah pengaruh nasehat-nasehat murid Yesus dan juru-juru dakwah lainnya. Pemeliharaan bahan-bahan tersebut dalam Injil adalah dengan jalan dakwah, liturgi, pengajian-pengajian para penganut agama yang setia. Kemungkinan tersusunnya bentuk tertulis mengenai kepercayaan, kata-kata tertentu danpada Yesus seperti Hikayat Penyaliban umpamanya, para pengarang Injil memakai bentuk tertulis bersama dengan tradisi oral untuk menghasilkan teks yang sesuai dengan lingkungan yang bermacam-macam, untuk memenuhi kebutuhan Gereja, untuk menunjukkan pemikiran tentang kitab suci, untuk membetulkan yang salah dan untuk menjawab argumentasi lawan. Dengan begitu maka para pengarang Injil mengumpulkan secara tertulis hal-hal yang mereka dapatkan sebagai tradisi lisan, masing-masing menurut pandangan dan seleranya.”

Sikap kolektif yang diperlihatkan oleh 100 ahli tafsir Perjanjian Baru Katolik dan Protestant berbeda sekali dengan garis yang ditetapkan oleh Konsili Vatikan II dalam penyusunan dogmatik tentang Wahyu, yaitu penyusunan yang dikerjakan antara tahun 1962 dan tahun 1965. Kita telah menyebutkan di atas tentang dokumen penting yang dihasilkan oleh Konsili tersebut mengenai Perjanjian Lama. Konsili Vatikan II telah mengatakan bahwa fasal-fasal Perjanjian Lama mengandung hal-hal yang tidak sempurna dan lemah (imparfait et caduc), akan tetapi Konsili tersebut tidak memberikan “reserve” yang sama terhadap Injil. Sebaliknya Konsili tersebut menyebutkan:

“Semua orang tahu bahwa di antara tulisan-tulisan Kitab suci, termasuk yang terdapat dalam Perjanjian Baru, Injil-Injil menunjukkan kelebihan yang menonjol, karena Injil itu merupakan kesaksian yang tertinggi tentang kehidupan dan ajaran kata Tuhan yang menjelma menjadi manusia, juru selamat kita. Di mana saja dan kapan saja, Gereja selalu mempertahankan bahwa empat Injil itu berasal dari para Rasul (sahabat Isa). Injil-Injil itu adalah apa yang telah diceramahkan oleh para Rasul dengan mengikuti perintah Yesus. Oleh karena itu maka para Rasul dan orang-orang yang selalu dekat dengan mereka, telah mendapat inspirasi suci dari Ruhul Kudus dan meriwayatkan tulisantulisan yang merupakan dasar kepercayaan Kristen, yakni Injil, dengan empat bentuknya yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yahya.” “Ibu Suci (Gereja) selalu berpegang dengan kuat bahwa empat Injil yang diberi sifat bersejarah telah menyampaikan dengan penuh amanat segala apa yang diperbuat dan diajarkan oleh Yesus, putra Tuhan, selama ia hidup di antara manusia sampai ia diangkat ke langit. Para pengarang suci kemudian menyusun Injil empat yang memberikan kepada kita segala yang benar dan jujur mengenai Yesus.”

Kata-kata yang kita kutip daripada Konsili Vatikan II itu menunjukkan secara tegas kepercayaan bahwa Injil telah meriwayatkan perbuatan dan perkataan Yesus. Akan tetapi kita merasakan ketidakserasian antara pernyataan Konsili tersebut dengan pernyataan pengarang-pengarang yang kita sebutkan sebelumnya, khususnya kata kata R.P. Kannengiesser: “Kita tidak boleh memahami Injil-lnjil secara harafiah, oleh karena Injil itu merupakan tulisan-tulisan daripada keadaan-keadaan tertentu atau tulisan-tulisan perjuangan yang penulis-penulisnya memelihara tradisi masyarakat mereka mengenai Yesus dengan tulisan.”

“Injil-Injil adalah teks-teks yang menyesuaikan diri dengan bermacam-macam lingkungan, memenuhi kebutuhan-kebutuhan Gereja, melontarkan pikiran-pikiran mengenai Kitab suci, membetulkan kesalahan-kesalahan dan menjawab argumentasi lawan. Dengan begitu, Injil-injil mengumpulkan dan menuliskan apa yang mereka terima dari tradisi lisan, menurut pandangan-pandangan pribadi mereka.” (Terjemahan Ekumenik dari Injil).

Nyata sekali hahwa antara deklarasi Konsili Vatikan dan sikap-sikap yang lebih baru terdapat kontradiksi. Tidak mungkin untuk menyesuaikan deklarasi Vatikan II yang mengatakan bahwa dalam Injil, kita menemukan riwayat yang jujur tentang perbuatan dan perkataan Yesus,dengan adanya kontradiksi, kekeliruan, kemustahilanmaterial dan pemberitaan yang bertentangan dengan realitas ilmiah yang sudah pasti.

Sebaliknya, jika kita memandang Injil sebagai ekspresi dari pandangan-pandlangan pribadi dari orang-orang yang mengumpulkan tradisi-tradisi lisan yang terdapat dalam bermacam-macam kelompok, kita tidak merasa heran jika kita menemukan dalam Injil-Injil itu keterangan-keterangan yang menunjukkan bahwa Injil-lnjil tersebut ditulis oleh orang-orang dalam suasana yang telah kita terangkan di atas. Mereka itu dapat saja merupakan orang-orang yang sangat jujur walaupun mereka itu meriwayatkan hal-hal yang memuat kontradiksi dengan pengarang-pengarang lain karena mereka sendiri tak pernah merasa curiga akan kebenarannya, atau mungkin sekali karena ada persaingan keagamaan antara dua kelompok, mereka itu menyajikan riwayat kehidupan Yesus menurut kaca mata yang sangat berlainan dengan kaca mata lawannya.

Kita telah membaca bahwa konteks sejarah adalah sesuai dengan cara memandang Injil seperti tersebut.Bahan-bahan untuk menyelidiki Injil yang kita miliki semua menguatkan pandangan semacam itu.

INJIL KARANGAN MATIUS

Di antara empat Injil, Injil Matius adalah yang pertama dalam urutan kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian Baru. Hal ini memang tepat oleh karena Injil Matius hanya merupakan kelanjutan dan Perjanjian Lama. Injil tersebut ditulis untuk menunjukkan bahwa “Yesus telah menamatkan sejarah Bani Israil” yaitu seperti yang dikatakan oleh para pengarang “Terjemahan Ekumenik daripada Bibel” yang akan banyak kita kutip. Karena maksud tersebut di atas, Matius selalu mengutip dari Perjanjian Lama, serta menunjukkan bahwa Yesus telah berbuat sebagai Al Masih (Pemimpin yang diakui oleh rakyat dengan upacara mengusapkan minyak kasturi ke badannya) yang telah lama dinanti oleh orang-orang Yahudi.

Injil ini bermula dengan menyebutkan silsilah keturunan Yesus.10 Matius rnenunjukkan bahwa asal-usul Yesus itu sampai kepada nabi Ibrahim melalui nabi Dawud. Kita akan menemukan kesalahan teks yang biasanya dianggap sepi oleh para ahli tafsir Injil. Bagaimanapun keadaannya, maksud Matius adalah jelas, yaitu untuk mempergunakan hubungan keturunan dengan Ibrahim sebagai bukti bahwa karangannya itu mempunyai suatu tujuan dan maksud. Matius mengikuti garis yang sama dengan selalu menonjolkan sikap Yesus terhadap hukum-hukum Yahudi yang mengandung tiga prinsip besar yaitu: sembahyang, puasa dan sedekah.

Yesus ingin menyampaikan ajarannya pertama-tama kepada rakyatnya. Ia berkata kepada para rasul yang dua belas: “Jangan mengikuti jalannya orang kafir dan jangan masuk ke kotanya orang-orang Samara;11 lebih baik. Pergilah kepada domba-domba Bani Israil yang hilang” (Matius 15, 24). Pada akhir Injilnya, Matius memperluas tugas para murid-murid Yesus yang pertama dan melukiskan Yesus sebagai memerintahkan: “Pergilah dan timbulkan pengikut-pengikut dari segala bangsa (Matius 28, 19), tetapi permulaan dakwah harus diutamakan untuk Bani Israil.” Mengenai Injil Matius ini, A. Tricot menulis: “Injil Matius adalah suatu buku Yahudi dalam bentuk dan jiwanya. Walaupun ditutup dengan pakaian Yunani, buku itu tetap berbau Yahudi dan menunjukkan ciri-ciri Yahudi.”

Pandangan-pandangan tersebut di atas menempatkan asal Injil Matius dalam tradisi masyarakat Yahudi Kristen, yang sebagaimana dikatakan oleh O. Culmann, berusaha sekuat-kuatnya untuk melepaskan diri dan ikatan agama-agama Yahudi, tetapi dengan tetap memelihara kontinuitas Perjanjian Lama. Pokok-pokok perhatian dan nada kitab Injil Matius pada umumnya menunjukkan adanya situasi yang tegang.

Faktor-faktor politik juga terasa dalam teks. Pendudukan Kerajaan Romawi di Palestina menyalakan semangat bangsa Yahudi untuk mencapai kemerdekaan, dan mereka berdo’a kepada Tuhan untuk membantu bangsa yang Ia pilih daripada bermacam-macam bangsa. Tuhannya Israil adalah Tuhan yang Maha Kuasa dan yang dapat memberi bantuan langsung dalam urusan-urusan manusia, sebagaimana Ia telah berbuat berkali-kali dalam sejarah.

Siapakah Matius itu? Kita mengatakan dengan tegas bahwa pada waktu sekarang ia tidak lagi dianggap sebagai sahabat Yesus. A. Tricot menggambarkan Matius dalam tafsirnya terhadap Terjemahan Perjanjian Baru tahun 1960 sebagai berikut: “Matius alias Levi adalah seorang pegawal kantor bea cukai di distrik Kafrna’um ketika ia diminta oleh Yesus supaya menjadi salah satu dari pengikut-pengikutnya.” Begitulah yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin Gereja seperti Origene, Yerome dan Epihane. Tetapi sekarang orang berpendapat lain; suatu hal yang tak dapat disangkal adalah bahwa Matius adalah seorang Yahudi, kata-katanya adalah kata-kata dari daerah Palestina, sedang susunan kata-katanya adalah Yunani. Pengarang (Matius) mengarahkan karangannya kepada kelompok yang berbicara dengan bahasa Yunani, mengetahui adat kebiasaan Yahudi dan bangsa Aramaik; begitulah menurut O. Culmann.

Menurut ahli-ahli tafsir “Terjemahan Ekumenik,” asal usul Injil Matius adalah sebagai berikut:

“Biasanya orang berpendapat bahwa Injil Matius ditulis di Syria atau di Phenisie karena di tempat tersebut terdapat banyak orang-orang Yahudi.12 Kita dapat merasakan suatu polemik melawan agama Yahudi Sinagog yang ortodoks yang dianut oleh kaum Parisi sebagaimana yang terjadi dalam Konferensi Sinagog di Yamina kira-kira pada tahun 80. Dalam keadaan keadaan semacam itu banyak pengarang-pengarang yang mengatakan bahwa Injil Matius ditulis di antara tahun 80 90, atau mungkin lebih dahulu sedikit, karena tak ada cara untuk mencari kepastian.

“Oleh karena kita tidak mengetahui nama pengarang yang sesungguhnya, maka kita akan terpaksa merasa puas dengan sifat-sifat yang diterangkan dalam Injil tersebut; pengarang dapat dikenal dengan pekerjaannya. Ia mahir dalam pengetahuan tentang kitab-kitab suci, tradisi Yahudi, kenal dan menghormati pembesar-pembesar agama daripada bangsanya tetapi menghadapkan persoalan-persoalan kepada mereka dengan kasar; ia mahir dalam mengajar dan dalam memperkenalkan Yesus kepada para pendengar, selalu mendesakkan akibat-akibat praktis tentang ajaran-ajarannya, ia membalas baik terhadap sinyalemen seorang Yahudi terpelajar yang menjadi pemeluk agama Kristen, seorang pemilik rumah yang dapat mengeluarkan dari simpanannya hal-hal yang baru atau lama, seperti yang dikatakan oleh Matius 13, 52. Dengan gambaran seperti di atas, kita menjadi jauh daripada seorang pegawai kantor di Kafrna’um yang diberi nama Levi oleh Markus dan Lukas dan kemudian menjadi salah satu daripada dua belas orang sahabat Yesus.

Semua orang setuju untuk mengatakan bahwa Matius menulis Injilnya dengan mengambil bahan daripada sumber yang sama dengan sumbernya Markus dan Lukas. Akan tetapi riwayatnya berlainan dalam hal-hal yang pokok sebagai yang akan kita lihat nanti. Walaupun begitu Matius telah mempergunakan Injil Markus, padahal Markus bukan muridnya Yesus,” begitulah kata O. Culmann.

Matius bersikap liberal (bebas) terhadap teks-teks. Kita akan menemukannya mengutip silsilah keturunan Yesus dari Perjanjian Lama dan diletakkannya pada permulaan Injilnya. Ia menyelipkan dalam Injilnya hikayat-hikayat yang tak dapat dipercayai (incroyable). Kata: “tak dapat dipercayai” adalah kata yang dipakai oleh R.P. Kannengiesser pada bukunya Foi en la Resurrection, Resurrection de la foi (Percaya terhadap hidup kembalinya Yesus, kembali hidupnya kepercayaan) dalam hikayat hidupnya Yesus kembali, yakni dalam hal yang mengenai “pengawal.” Ia menunjukkan “kurang bobotnya sejarah pengawal militer kuburan; pengawal militer kuburan itu adalah tentara Kafir yang tidak ada hubungannya dengan atasan mereka, akan tetapi mereka melapor kepada para pendeta besar yang menggaji mereka untuk mengatakan kebohongan-kebohongan.” Tetapi R.P. Kannengiesser menambahkan: “Kita tidak boleh mencemoohkan, karena maksud Matius adalah sangat baik, oleh karena ia mempersatukan bahan-bahan kuna tradisi lisan dengan karya yang ditulisnya. Penyajiannya mirip dengan Yesus Christ Superstar.13

Penelitian-penelitian tentang Matius ini berasalkan dari seorang besar ahli teologi, seorang Professor dari Lembaga Katolik di Paris.

Matius menyebutkan dalam tulisannya kejadian-kejadian yang berbarengan dengan matinya Yesus; ini adalah suatu contoh lain tentang khayalannya. Beginilah bunyinya: Setelah tutup daripada tempat suci itu robek menjadi dua, dari atas ke bawah, maka bumipun bergeraklah, batu-batu luluh, kuburan-kuburan menjadi terbuka, mayat-mayat para wali menjadi hidup. Setelah Yesus bangkit kembali, mayat-mayat hidup itupun masuk ke kota suci dan memperlihatkan diri kepada orang banyak.

Paragraf daripada Matius ini (27, 51-53) tak ada bandingannya dalam Injil-Injil lainnya. Kita tidak mengerti bagaimana mayat-mayat para wali dapat bangun hidup kembali pada waktu wafatnya Yesus (malam Sabat seperti yang tersebut dalam Injil-Injil) dan tidak keluar dari kuburan mereka sampai Yesus bangkit kembali {keesokan hari sesudah Sabat, menurut sumber-sumber itu juga).

Barangkali hanya dalam Injil Matius kita dapatkan kekeliruan-kekeliruan yang sangat menyolok dan tidak dapat dipertahankan lagi, yaitu hal yang dilukiskan sebagai kata-kata yang keluar dari mulut Yesus.

Matius meriwayatkan dalam Injilnya (12, 38-40) dongengan tentang alamat Yunus: Yesus berada di tengah-tengah para ahli agama Yahudi dan orang-orang Parisi yang berkata kepadanya: “Ya Tuan. Guru, kami mengharap tuan Guru menunjukkan suatu alamat kepada kami,” Yesus menjawab: “Generasi jahat dan pelacurlah yang minta suatu alamat. Tak ada suatu alamat yang akan diberikan kepadanya kecuali alamat nabi Yunus. Karena sebagaimana Yunus berada dalam perut monster tiga hari dan tiga malam, begitu juga anak manusia (Yesus sendiri) akan berada di dalam tanah tiga hari dan tiga malam.” (teks terjemahan Ekumenik).

Sebagai tersebut di atas, Yesus mengumumkan bahwa ia akan berada dalam tanah tiga hari dan tiga malam. Padahal Matius dan juga Lukas dan Markus menyebutkan dalam Injil mereka, bahwa wafatnya Yesus dan penguburannya terjadi pada hari Sabtu malam. Ini berarti bahwa Yesus berada di dalam tanah selama tiga hari. Akan tetapi semua kejadian itu hanya mengandung dua malam.14

Biasanya para ahli tafsir Injil menutup mulut terhadap hikayat ini. Meskipun begitu R.P. Rouguet menunjukkan kekeliruan tersebut karena ia mengatakan bahwa hari itu hanya ada satu hari penuh, dan dua malam. Tetapi R.P. Rouguet menambahkan: “tetapi kalimat-kalimat itu diringkaskan dan hanya mempunyai satu arti yaitu tiga hari.” Adalah menyedihkan jika kita melihat para ahli tafsir memakai argumentasi-argumentasi yang tidak mempunyai arti positif, padahal seandainya mereka mengatakan bahwa ketidak serasian itu disebabkan oleh kekeliruan yang membuat naskah, keterangan mereka akan sangat memuaskan akal dan pikiran.

Yang menjadi ciri-ciri Injil Matius selain kekeliruan-kekeliruan tersebut di atas, adalah bahwa Injil Matius merupakan Injil kelompok Yahudi Kristen yang sedang memutuskan hubungannya dengan agama Yahudi, tetapi tetap dalam garis Perjanjian Lama. Injil Matius ini mempunyai arti yang sangat penting jika di pandang dari segi sejarah agama Yahudi Kristen.

INJIL MARKUS

Injil Markus adalah Injil yang paling pendek, tetapi ia adalah Injil yang paling tua. Ia bukan buku karangan seorang sahabat Yesus, akan tetapi karangan seorang murid sahabat Yesus.

O. Culmann menulis bahwa ia tidak menganggap Markus sebagai murid Yesus, akan tetapi ia mengingatkan kepada mereka yang sangsi akan kebenaran anggapan bahwa Injil itu ditulis oleh Markus seorang rasul atau sahabat Yesus, bahwa “Matius dan Lukas tidak akan mempergunakan Injil tersebut seandainya mereka tidak yakin bahwa Injil Markus didasarkan pada ajaran seorang Rasul.” Tetapi argumentasi seperti ini tidak meyakinkan. O. Culmann juga mengutip untuk menguatkan “reserve”nya bahwa Injil tersebut memuat banyak kutipan-kutipan dari seorang. “Yahya yang digelari Markus” dalam Perjanjian Baru, akan tetapi kutipan-kutipan tersebut tidak menyebutkan nama seorang pengarang Injil, dan teks Markus sendiri juga tidak menyebutkan pengarangnya.

Kurangnya penerangan, tentang hal ini menyebabkan para ahli tafsir menganggap perincian-perincian yang bersifat khayalan sebagai hal yang berharga, contohnya sebagai berikut: berdasarkan anggapan bahwa Markus adalah satu-satunya pengarang Injil yang meriwayatkan kejadian penyaliban Yesus, hikayat seorang muda yang hanya memakai sehelai kain untuk pakaiannya, kemudian ketika ditangkap, ia menanggalkan sehelai kain tersebut serta lari telanjang (Markus 14, 51-52), banyak orang mengambil konklusi bahwa pemuda tersebut adalah Markus, seorang murid yang setia yang berusaha mengikuti gurunya (Terjemahan Ekumenik). Bagi beberapa orang lainnya dapat dilihat di sini “dengan kenang-kenangan pribadi, suatu bukti kebenaran, suatu tanda tangan anonime, membuktikan bahwa ia adalah saksi mata” (O. Culmann).

Bagi pengarang ini “banyak pemutaran kata-kata menguatkan hipotesa bahwa pengarang Injil Markus adalah seorang Yahudi,” tetapi adanya latinisme (bentuk kesusasteraan latin) memberi kesan bahwa pengarang tersebut menulis Injilnya di kota Roma. “Ia berbicara kepada orang-orang Kristen yang tidak tinggal di Palestina, dan ia berusaha untuk menjelaskan kalimat-kalimat Aramaik yang ia pergunakan.”

Tradisi menggambarkan, Markus sebagai teman Petrus di Roma. Ini didasarkan atas kata penutup daripada surat Petrus yang pertama, jika Petrus memang betul-betul orang yang menulis surat tersebut. Petrus telah menulis dalam suratnya: “Kelompok orang-orang yang terpilih yang ada di Babylon kirim salam kepadamu, begitu juga Markus, anakku,” Babylon amat boleh jadi Roma, begitu kita dapatkan dalam tafsir Terjemahan Ekumenik, sehingga orang mengira dapat mengambil konklusi bahwa Markus yang bersama Petrus berada di Roma adalah penulis Injil Markus. Apakah pemikiran semacam itulah yang mendorong Papias, uskup Hierapolis pada kira-kira tahun 150 untuk mengatakan bahwa yang mengarang Injil adalah Markus, juru bahasa Petrus dan seorang yang juga bekerja sama dengan Paulus?

Dengan kaca mata ini, orang menempatkan penyusunan Injil Markus sesudah matinya Petrus, yakni paling pagi antara tahun 65 dan 70 menurut “Terjemahan Ekumenik,” atau kira-kira tahun 70 menurut O. Culmann.

Teks Injil Markus menunjukkan suatu cacat yang besar, karena ditulis tanpa mengindahkan kronologi. Dengan begitu Markus menyebutkan dalam permulaan Injilnya (1, 16-20), hikayat empat orang nelayan yang dilatih oleh Yesus dengan katanya: “Kamu akan menjadi pembaru manusia,” pada saat mereka belum kenal dengan Yesus. Pengarang Injil tersebut juga menunjukkan ketidak mampuan menilai kebenaran.

Seperti yang dikatakan oleh R.P. Rouguet, Markus adalah seorang penulis yang kurang pandai, “yang paling bodoh di antara para pengarang Injil.” Ia tidak mengerti bagaimana menulis hikayat. Ahli tafsir Injil menyandarkan penilaian ini kepada paragraf yang meriwayatkan kelembagaan 12 rasul, yang terjemahan harfiahnya sebagai berikut: “Ia naik ke atas gunung dan mengundang mereka yang ia kehendaki, mereka datang kepadanya. Ia menjadikan 12 orang itu supaya bersama dengannya, supaya Ia dapat mengirim mereka mencari ikan dan mempunyai kekuatan untuk mengusir setan. Dan ia membuat 12 orang dan memaksakan nama Petrus kepada Simon” (Markus 3, 13-16).

Dalam beberapa hikayat, Markus berkontradiksi dengan Matius dan Lukas seperti yang kita pernah lihat berhubung dengan alamat Yunus. Di samping itu mengenai alamat yang diberikan oleh Yesus kepada beberapa orang selama Yesus bertugas, Markus (8, 11-12) meriwayatkan suatu dongengan yang tak dapat dipercaya, “orang-orang Parisi datang dan mulai bicara dengan Yesus; untuk menjebak Yesus, mereka minta suatu alamat yang datang dari langit. Sambil menunjukkan keluhan yang dalam, Yesus berkata: mengapa generasi ini minta alamat? Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tak ada alamat yang akan diberikan kepada generasi ini. Ia meninggalkan mereka, naik di atas perahu kecil dan berangkat ke daratan sebelah.”

Ini tidak dapat disangkal lagi adalah karena penegasan dari Yesus sendiri tentang niatnya tidak akan melakukan sesuatu perbuatan yang supernatural. Oleh karena itu ahli-ahli tafsir daripada Terjemahan Ekumenik heran karena Lukas menerangkan bahwa Yesus hanya akan memberikan satu alamat, yaitu alamat Nabi Yunus (silahkan baca Injil Matius), dan merasakan kontradiksi karena Markus berkata “generasi ini tidak akan mendapatkan sesuatu alamat, dan kemudian mereka memperingatkan kepada mukjizat yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri sebagai alamat” (Lukas.7, 22 dan 11, 20). Seluruh Injil Markus dianggap Canon (kanon) secara resmi. Akan tetapi kita ingat bahwa akhir Injil Markus ( 16, 9-20) dianggap oleh ahli-ahli modern sebagai suatu karya yang ditambahkan. Terjemahan Ekumenik tegas dalam hal ini. Bagian terakhir tersebut tidak dimuat dalam dua manuskrip kuno Injil yang komplit, yaitu Kodex Vatikanus dan Kodex Sinaitikus dari abad IV. Mengenai hal ini O. Culmann menulis: Manuskrip-manuskrip Yunani yang lebih baru dan beberapa versi telah menambah suatu konklusi yang tidak ditulis oleh Markus sendiri tetapi diambil dari beberapa Injil. Sesungguhnya versi bagian terakhir yang ditambahkan adalah banyak. Dalam teks kadang-kadang terdapat versi panjang, kadang-kadang terdapat versi pendek (dua-duanya telah diterbitkan dalam Terjemahan Ekumenik), kadang-kadang versi panjang dengan tambahan dan kadang-kadang kedua versi bersama.

R.P. Kannengiesser memberi komentar sebagai berikut: orang terpaksa menghapuskan ayat-ayat terakhir ketika Injil Markus diterima secara resmi oleh masyarakat yang menjamin, begitu juga ketika Injil Markus dicetak untuk awam. Baik Matius, maupun Lukas atau Yahya tidak tahu bagian yang ditinggalkan Injil Markus. Walaupun begitu kekosongan tersebut sangat terasa. Lama sesudah itu ketika Injil-Injil Matius, Lukas dan Yahya telah tersiar, orang mengumpulkan bagian terakhir dari Injil Markus dengan mengambil dari kiri dan kanan, dari para pengarang Injil lainnya, menjadi mudahlah untuk mengulangi bagian-bagian tebakan ini dengan membaca Markus (16, 9-20). Dengan begitu orang akan mendapatkan suatu ide yang kongkrit tentang kebebasan para pengarang dalam membentuk susunan literer hikayat-hikayat Bibel sampai permulaan abad II.

Tak ada pengakuan tentang adanya manipulasi teks suci yang dilakukan oleh manusia lebih terang dari pikiran-pikiran tersebut yang dicetuskan oleh seorang ahli teologi yang besar.

INJIL LUKAS

Menurut O. Culmann, Lukas adalah pencatat berita, dan menurut R.P. Kannengiesser, Lukas adalah penulis roman. Lukas menulis dalam Pendahuluan Injilnya, bahwa banyak orang lain menulis riwayat Nabi Isa, maka ia akan menulis riwayat tentang kejadian-kejadian yang sama dengan mempergunakan hikayat dan informasi dari saksi-saksi mata (ini secara tidak langsung berarti bahwa Lukas bukan saksi mata) dan informasi-informasi yang datang dari ceramah-ceramah para rasul. Dengan begitu maka yang ia sajikan dengan syarat-syarat tersebut adalah suatu karya yang tersusun menurut metode:

Pendahuluan:

  1. Sedangkan banyak orang sudah mencoba mengarang hikayat dari hal segala perkara yang menjadi yakin di antara kita.
  2. Sebagaimana yang diserahkan kepada kita oleh orang, yang dari mulanya melihat dengan matanya sendiri dan menjadi pengajar Injil itu.
  3. Maka tampaknya baik kepadakupun, yang telah menyelidiki segala perkara itu dengan betul-betul dari asalnya, menyuratkan bagimu dengan peraturannya, hai Teopilus yang mulia.
  4. Supaya engkau dapat mengetahui kesungguhan segala sesuatu yang diajarkan kepadamu.

Dari baris-baris pertama kita sudah dapat merasakan perbedaan antara Lukas dengan Markus, seorang penulis yang kurang mahir yang bukunya telah kita bicarakan. Injil Lukas adalah suatu karya sastra yang tak dapat dipungkiri, tertulis dalam bahasa Yunani yang murni.

Lukas adalah seorang kafir yang terpelajar dan kemudian memeluk agama Kristen. Orientasinya terhadap orang Yahudi nampak sekali. Seperti yang dikatakan oleh Culmann, Lukas tidak mengutip kembali ayat-ayat yang berbau Yahudi dalam Injil Markus, dan menonjolkan kata-kata Yesus terhadap ketidak imannya orang-orang Yahudi, serta menonjolkan pula hubungannya yang baik dengan orang-orang Samaritan yang tidak disukai oleh orang-orang Yahudi, sedangkan Matius, seperti yang telah kita lihat, melukiskan bahwa Yesus minta kepada para sahabatnya untuk menjauhkan diri dari orang Yahudi. Ini adalah satu daripada beberapa contoh bahwa para penulis Injil dengan melukiskan Yesus mengatakan hal-hal yang sesuai dengan selera pribadi mereka. Mereka itu meriwayatkan kata-kata Yesus dengan versi yang dipilih menurut pandangan kelompok mereka. Bagaimana kita dapat mengingkari bahwa Injil adalah: “bukuperjuangan” atau “buku mengenai suasana tertentu” seperti yang telah kita katakan? Perbandingan antara susunan umum Injil Lukas dengan susunan umum Injil Matius memberi bukti tentang hal tersebut.

Siapakah Lukas itu? Orang ingin mengidentifikasikan Lukas dengan seorang tabib dengan nama yang sama, yaitu yang disebut oleh Paulus dalam surat-suratnya. Terjemahan Ekumenik mengatakan bahwa “banyak orang yang mendapatkan konfirmasi mengenai pekerjaan Lukas pengarang Injil sebagai seorang tabib dalam kepandaiannya untuk mendiagnosa orang sakit.” Keterangan ini adalah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Lukas tidak pernah memperoleh keterangan tentang penyakit “kata-kata yang ia pakai adalah kata orang-orang terpelajar pada zaman itu.” Memang ada seorang bernama Lukas yang menjadi teman perjalanan Paulus. Apakah orang itu Lukas Pengarang Injil? Inilah yang dikira-kirakan oleh O.Culmann.

Tahun ditulisnya Injil Lukas dapat dikira-kira menurut beberapa faktor. Lukas telah mempergunakan Injil Markus dan Injil Matius. Kita membaca dalam Terjemahan Ekumenik sebagai berikut: “nampaknya ia tahu tempat kota Yerusalem serta reruntuhannya yang disebabkan oleh tentara Titus pada tahun 70. Dengan begitu maka Injil Lukas telah ditulis sesudah itu. Ahli-ahli kritik sekarang berpendapat bahwa Injil Lukas ditulis sekitar tahun 80-90; tetapi ada juga yang mengatakan tahun sebelum itu.

Bermacam-macam Hikayat dalam Injil Lukas menunjukkan perbedaan besar dengan Injil-Injil sebelumnya. Di atas kita telah memberikan gambaran singkat. Terjemahan Ekumenik telah membicarakannya pada halaman 181 dan selanjutnya O. Culmann dalam karangannya: “Perjanjian Baru,” halaman 18 memuat hikayat-hikayat Injil Lukas yang tidak terdapat dalam Injil-Injil lain. Hal ini tidak mengenai perincian.

Hikayat tentang masa kanak-kanak Yesus dalam Injil Lukas adalah hanya terdapat dalam Injil Lukas. Matius memberikan riwayat yang berbeda, sedangkan Markus tidak memuatnya sama sekali.

Matius dan Lukas memberi silsilah keturunan Yesus yang berbeda-beda. Ada kontradiksi penting, kekeliruan yang sangat besar dari segi ilmiah sehingga perlu dibahas dalam bab khusus. Kita dapat mengerti bila Matius yang menghadapi orang-orang Yahudi, menyebutkan silsilah keturunan Yesus dan dimulai dengan Nabi Ibrahim sampai Nabi Daud. Kita dapat memahami pula jika Lukas seorang yang mula-mula kafir kemudian memeluk agama Kristen, memberikan silsilah keturunan sampai yang lebih tinggi. Akan tetapi kita akan menemukan bahwa bermula denganNabi Daud silsilah-silsilah keturunan ituberkontradiksi.

Tugas kenabian Yesus diriwayatkan oleh Lukas, Matius dan Markus secara berbeda-beda dalam beberapa hal.

Suatu kejadian yang sangat penting bagi umat Kristen, yaitu lembaga Ekaristi;15 diriwayatkan secara berbeda oleh Lukas di satu pihak dan oleh Matius dan Markus di pihak yang lain. R.P. Rouguet menulis dalam bukunya, Pengantar kepada Injil (Initiation a l’Evangile), halaman 75 bahwa kata-kata Yesus yang menjadi dasar kelembagaan Ekaristi diriwayatkan oleh Lukas (22, 19-24) dalam bentuk yang sangat berbeda dengan riwayat Matius (26, 26-29) dan riwayat Markus (14, 22-24). Kedua yang terakhir ini boleh dikatakan sama atau identik. Sebaliknya susunan yang diriwayatkan oleh Lukas sangat mirip dengan susunan Paulus (surat pertama kepada orang Korintus 11, 23-25).

Sebagaimana orang mengetahui, Lukas dalam Injilnya meriwayatkan Kenaikan Al Masih dalam susunan yang berkontradiksi dengan riwayat yang terdapat dalam fasal-fasal Perbuatan-perbuatan para Rasul-rasul yang merupakan bagian penting daripada Perjanjian Baru dan yang Lukas sendiri dianggap sebagai penulisnya. Dalam Injilnya, Lukas mengatakan bahwa kenaikan Al Masih itu terjadi pada hari Paskah, sedang dalam: Kisah Perbuatan Para Rasul, Lukas mengatakan bahwa kenaikan Al Masih terjadi 40 hari sesudah Paskah.16 Kontradiksi ini telah mendorong para ahli tafsir Injil untuk memberi tafsiran-tafsiran yang ajaib.

Akan tetapi ahli tafsir yang mementingkan obyektifitas seperti penulis-penulis Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, terpaksa mengakui, dalam suatu rangka yang umum bahwa: “Bagi Lukas, perhatian pertama bukan untuk meriwayatkan kejadian secara tepat dalam arti ketepatan material.” R.P. Kannengiesser membandingkan riwayat yang terdapat dalam: “Kisah Perbuatan Para Rasul” yang juga karangan Lukas, dengan riwayat tentang kejadian yang sama yang diberikan oleh Paulus. R.P. Kannengiesser menulis: “Di antara empat pengarang Injil, Lukas adalah yang paling berperasaan dan yang paling sastrawan. Ia menunjukkan semua sifat-sifat penulis roman.”

INJIL YAHYA

Injil Yahya adalah sangat berbeda dengan tiga Injillainnya, sedemikian rupa sehingga R.P. Rouguet dalambukunya Pengantar kepada Injil, setelah memberi tafsiran kepada ketiga Injil yang pertama, mengatakan bahwa Injil Yahya merupakan “Dunia yang lain.” Memang begitu. Sesungguhnya Injil Yahya merupakan buku yang sangat berlainan; kita dapatkan di dalamnya perbedaan dalam tertib susunannya, dalam hikayatnya, dalam uraian-uraiannya, perbedaan gaya bahasa, perbedaan geografis dan kronologis bahkan perbedaan dalam pandangan teologi (O. Culmann). Dengan begitu maka kata-kata Yesus diriwayatkan oleh Yahya dan oleh ketiga pengarang Injil lainnya secara berbeda. R.P. Rouguet menjelaskan bahwa “Injil-Injil Sinoptik17 meriwayatkan kata-kata Yesus dalam style yang bernada perintah keras dan lebih dekat dengan gaya orang bicara.” Dalam Injil Yahya segala sesuatu bernada “berfikir,” sedemikian rupa sehingga kita dapat bertanya apakah Yesus yang bicara atau ide yang dicetuskan Yesus itu kemudian diperpanjang secara tidak sadar dengan pemikiran-pemikiran pengarang Injil.

Siapakah pengarang Injil Yahya? Persoalan ini banyak diperdebatkan dan memang terdapat bermacam-macam pendapat. A. Tricot dan R.P. Rouguet yakin bahwa Injil Yahya dikarang oleh seorang saksi-mata. Pengarangnya adalah Yahya, anak Zebede , saudara Yakob ini adalah seorang sahabat Yesus yang segi-segi hidupnya sudah terkenal dan terpapar dalam buku-buku pelajaran agama bagi awam. Seni gambar populer melukiskannya berdampingan dengan Yesus pada waktu santapan terakhir, sebelum pensaliban. Siapa yang dapat menggambarkan bahwa Injil Yahya bukan karangan Yahya, sahabat Yesusyang gambarnya tersebar di mana-mana?

Bahwa Injil keempat ini ditulis pada waktu yang sangat terlambat tidak menjadi argumentasi formal untuk melawan anggapan di atas. Pendapat yang definitif mengatakan bahwa Injil Yahya dikarang pada akhir abad pertama. Gambaran bahwa Injil Yahya ditulis 60 tahun sesudah Yesus dapat terasa sesuai dengan adanya seorang sahabat yang sangat muda pada waktu hidupnya Yesus, dankemudian berumur panjang hampir satu abad.

R.P. Kannengiesser dalam penyelidikannya tentang kebangkitan Yesus berkesimpulan bahwa tak seorangpun di antara pengarang-pengarang Perjanjian Baru, kecuali Paulus, yang dapat dikatakan saksi mata terhadap kelanjutan Yesus. Walaupun begitu, Yahya meriwayatkan tentang Yesus menampakkan dirinya kepada 12 sahabatnya, termasuk Yahya sendiri, yang sedang berkumpul, tetapiThomas tidak hadir (Yahya, 20, 19-24). Kemudian kejadian tersebut terulang; Yesus nampak kepada 12 sahabatnya yang berkumpul lengkap.

O. Culmann, dalam bukunya Perjanjian Baru tidak membicarakan hal tersebut.

Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel mengatakan bahwa kebanyakan para pengeritik tidak dapat menerima anggapan bahwa Injil Yahya adalah karangan Yahya sahabat Yesus; memang tak ada kemungkinan bahwa anggapan awam itu benar. Akan tetapi semua orang berpendapat bahwa teks Injil Yahya itu dikarang oleh beberapa penulis. Ada kemungkinan besar bahwa Injil Yahya yang kita miliki disiarkan oleh murid-murid pengarang. Mereka itu telah menambah fasal 21, dan tidak ada keragu-raguan lagi bahwa mereka juga menambah catatan-catatan (fasal 4, 2 dan mungkin fasal 4, 1, 4, 44, 7, 37b, 11, 2, 19, 35), mengenai hikayat wanita yang berzina, semua orang sependapat bahwa sumber daripada hikayat tak dapat diketahui, dan hikayat itu diselipkan kemudian. (Walaupun begitu termasuk dalam Injil Kanon). Paragraf 19, 35 nampak sebagai pernyataan dari seorang saksi mata (O. Culmann); ini adalah satu-satunya paragraf yang memberikan kesan tersebut, tetapi para ahli tafsir Injil berpendapat bahwa paragraf tersebut adalah paragraf tambahan.

O. Culmann berpendapat bahwa tambahan-tambahan baru nampak dalam Injil Yahya fasal 21, pasti merupakan karya seorang murid yang memasukkan perubahan dalam tubuh Injil Yahya.

Dengan tidak menyebutkan hipotesa-hipotesa yang diajukan oleh para ahli tafsir Injil, catatan-catatan yang datang dari pengarang-pengarang Kristen yang ternama dan yang mengenai persoalan siapa yang menulis Injil Yahya, menunjukkan kepada kita bahwa mereka berada dalam kebingungan. Nilai sejarah daripada riwayat-riwayat Yahya juga banyak dibantah. Perbedaannya dengan ketiga Injil lainnya adalah besar. O. Culmann mengatakan bahwa Yahya mempunyai pikiran-pikiran teologi yang berbeda dengan pengarang-pengarang Injil lainnya. Perbedaan teologi ini, menjadi pedoman untuk memilih kata-kata Yesus yang diriwayatkan, dan cara meriwayatkannya. Dengan begitu maka Yahya sering memperpanjang kata-kata tersebut, dan melukiskan Yesus yang kita ketahui dalam sejarah mengatakan, apa yang dikatakan oleh Ruhul Kudus kepadanya. Bagi ahli tafsir Injil ini, (O. Culmann) itulah sebabnya perbedaan antara Injil Yahya dan Injil-Injil yang lain.

Sudah terang kita dapat menggambarkan bahwa Yahya yang menulis Injilnya sesudah pengarang-pengarang lain dapat memilih hikayat-hikayat yang lebih dapat menerangkan idenya; kita tidak perlu heran jika kita tidak menemukan dalam Injil Yahya hal-hal yang dapat kita temukan dalam Injil-Injil yang lain. Terjemahan Ekumenik menyebutkan beberapa hal semacam itu (halaman 282). Tetapi yang mengherankan kita adalah adanya kekosongan-kekosongan. Kekosongan-kekosongan itu ada yang hampir tak dapat dipercaya seperti hikayat lembaga Ekansti. Kita tak dapat menggambarkan bahwa hikayat yang sangat penting bagi agama Kristen dan kemudian menjadi tiang (pokok) bagi liturginya yaitu misa, bahwa hikayat tersebut tidak disajikan oleh Yahya, seorang pengarang Injil yang terbaik. Dan Yahya hanya puas dengan menceritakan bagaimana Yesus membasuh kaki murid muridnya, meramalkan pengkhianatan Yudas dan pengingkaran Petrus kepadanya.

Sebaliknya ada hikayat-hikayat yang diceritakan oleh Yahya tetapi tak tersebut dalam Injil-Injil yang lain. Terjemahan Ekumenik menyebutkan hikayat-hikayat tersebut pada halaman 283. Mengenai hal ini orang dapat mengatakan bahwa ketiga pengarang Injil Sinoptik tidak dapat menemukan dalam hikayat yang diriwayatkan oleh Yahya sesuatu arti yang penting. Tetapi kita tentu merasa heran karena membaca Injil Yahya yang memuat hikayat Yesus yang sudah hidup kembali menampakl;an dirinya kepada murid-muridnya di pinggir danau Tabariah (Yahya 21, 1-14); hikayat tersebut adalah reproduksi daripada hikayat mencari ikan yang disebutkan oleh Lukas (5, 1-11) dengan banyak tambahan. Yahya menceritakan hikayat tersebut seakan-akan kejadian yang terjadi pada waktu Yesus masih hidup. Dalam Hikayat ini Lukas menyebutkan bahwa Yahya juga ada, yakni Yahya yang kemudian mengarang Injil Yahya.

Hikayat Injil Yahya tersebut merupakan bagian dari fasal 21 yang semua penyelidik sepakat bahwa fasal tersebut adalah tambahan. Dengan mudah kita dapat menggambarkan bahwa disebutkannya nama Yahya dalam hikayat Lukas akan dapat memasukkannya secara buat-buatan dalam Injil keempat. Bahwa untuk keperluan tersebut orang harus merubah hikayat dari zaman Yesus masih hidup menjadi hikayat yang diriwayatkan sesudah Yesus tidak ada lagi, hal ini tidak dapat memberhentikan tindakan orang-orang yang bertujuan merobah teks Injil.

Ada lagi suatu perbedaan besar antara Injil Yahya dengan ketiga lnjil lainnya, yaitu soal berapa lama Yesus melakukan tugasnya. Markus, Matius dan Lukas mengatakan hanya satu tahun, sedangkan Yahya mengatakan lebih dari dua tahun O. Culmann mengikuti Yahya.

Terjemahan Ekumenik mengatakan sebagai berikut:

“Injil-Injil Sinoptik menyebutkan periode Galilia yang panjang, kemudian diteruskan dengan perjalanan agak panjang ke Yudea, kemudian menetap sebentar di Yerusalem; sebaliknya Yahya menceritakan Yesus serirg pindah dari satu daerah ke daerah lain, tetapi lama di Yudea, khususnya di Yerusalem ( I, 19-51 . 2, 13-36. 5, 1-47. 14, 20-31). Ia menyebutkan beberapa keramaian Paskah (2, 13, 5, 1. 6, 4, 11, 55) dan dengan begitu memberi kesan bahwa Yesus bertugas lebih dari dua tahun

Siapa yang kita percaya? Markuskah atau Matius atau Lukas atau Yahya?

SUMBER-SUMBER INJIL

Kesan umum tentang Injil yang kita dapatkan dari penyelidikan kritis terhadap teks adalah bahwa Injil-lnjil “merupakan literatur yang kurang sempurna penyusunannya,” “yang tidak menunjukkan kontinuitas” dan “yang menunjukkan kontradiksi-kontradiksi yang tak dapat diatasi.” Penilaian tersebut kita pinjam dari Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, suatu buku yang penting sekali untuk kita jadikan referensi, oleh karena penilaian soal ini mempunyai akibat yang gawat. Kita telah membaca dalam bagian lain catatan-catatan mengenai sejarah kontemporer tentang agama, bahwa kelahiran Injil-Injil dapat menerangkan ciri-ciri literatur yang membingungkan ini bagi pembaca yang menggunakan pikirannya.

Akan tetapi kita perlu menyelidiki lebih jauh dan mencari yang dapat kita peroleh daripada karangan-karangan yang diterbitkan pada zaman modern ini mengenai sumber-sumber yang memberi bahan-bahan kepada pengarang Injil untuk menyusun teks mereka; adalah menarik juga untuk menyelidiki apakah sejarah teks-teks Injil setelah dibukukan dapat menerangkanaspek-aspek Injil yang sekarang kita baca.

Persoalan sumber ini telah dibicarakan secara sederhana sekali pada zaman Pendeta-pendeta Gereja (zaman Pertengahan). Pada abad-abad pertama Masehi, sumber Injil adalah Injil yang pertama tersusun dari manuskrip-manuskrip komplit, yakni Injil Matius. Soal sumber hanya mengenai Injil Lukas dan Markus. Injil Lukas merupakan kasus yang berdiri sendiri. Agustinus menganggap bahwa Markus, yaitu nomor dua dalam urutan Injil tradisional, mendapat inspirasi dari Injil Matius yang ia ringkaskan, dan bahwa Lukas yang merupakan pengarang Injil ketiga dalam manuskrip telah mempergunakan Injil Markus dan Matius. Pendahuluan Injil Lukas memberi kesan semacam itu.

Para ahli tafsir Injil pada waktu itu dapat juga memberikan gambaran tentang persamaan (convergensi) teks-teks dan menemukan ayat-ayat yang sama dalam dua atau tiga Injil Sinoptik. Para ahli tafsir Terjemahan Ekumenik daripada Bibel memberikan angka-angka sebagai berikut:

Ayat-ayat sama dalam tiga Injil Sinoptik adalah 330

Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Matius adalah 178

Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Lukas adalah 100

Ayat-ayat sama dalam Injil Matius dan Lukas adalah 230

dan ayat-ayat yang khusus bagi tiap-tiap pengarang Injil adalah: 330 ayat untuk Matius, 53 untuk Markus dan 500 untuk Lukas.

Dari zaman para pendeta-pendeta Gereja sampai akhir abad ke XVIII, 1500 tahun telah lewat dan tak ada masalah baru mengenai sumber-sumber pengarang Injil; orang hanya mengikuti tradisi. Hanya pada zaman modern inilah orang mengerti bahwa tiap pengarang Injil, walaupun mengambil informasi yang ada pada pengarang lain, ia menyusun suatu riwayat menurut seleranya dan pandangan pribadinya. Oleh karena, itu orang mulai memperhatikan kumpulan bahan-bahan hikayat, di satu pihak dalam tradisi lisan kelompok-kelompok asli, dan di lain pihak dalam sumber umum dalam bahasa Aramaik yang mestinya ada, akan tetapi sampai sekarang belum ditemukan orang. Sumber yang tertulis ini mungkin merupakan hanya satu kumpulan yang utuh, atau merupakan bagian-bagian yang bermacam-macam yang dapat dipakai oleh tiap-tiap pengarang Injil untuk menulis Injilnya.

Penyelidikan-penyelidikan yang mendalam semenjak satu abad telah mengungkapkan teori-teori yang berkembang dan menjadi rumit. Teori pertama adalah teori dua sumber daripada Holtzmann (tahun 1863). Menurut teori ini sebagai yang dijelaskan oleh O. Culmann dan Terjemahan Ekumenik, Matius dan Lukas memakai pertama bahan Markus, dan kedua suatu dokumen yang sekaranghilang. Selain itu Matius dan Lukas masing-masing memakai satu sumber sendiri. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Sumber khusus

untuk Matius

|

|

|–> Matius <–|

Markus –| |– Dokumen bersama

|–> Lukas <–|

|

|

Sumber khusus

untuk Lukas

 

O. Culmann mengkritik teori tersebut sebagai berikut:

  1. Karangan Markus yang dipakai oleh Lukas dan Matius belum tentu Injil Markus, akan tetapi suatu karangan lain yang ditulis sebelumnya.
  2. Dalam teori tersebut tradisi lisan kurang diperhatikan, pada hal tradisi lisan inilah yang memelihara kata-kata Yesus dan hikayat-hikayat kegiatannya selama 30 atau 40 tahun. Sesungguhnya tiap-tiap pengarang Injil itu hanya juru bicara masyarakat Kristen yang menentukan tradisi lisan.

Dengan begitu maka kita sampai kepada suatu pikiran bahwa Injil-Injil yang kita miliki telah memberi kita suatu gambaran tentang kehidupan dan kegiatan Yesus yang diketahui oleh Masyarakat Kristen Primitif (asli), begitu juga tentang akidah-akidah mereka, konsep-konsep teologi mereka yang ditulis oleh juru bicara mereka, yakni para pengarang Injil.

Penyelidikan-penyelidikan yang lebih modern tentang kritik teks terhadap sumber-sumber Injil menunjukkan bahwa tersusunnya teks-teks tersebut telah melalui proses yang lebih kompleks. La Synopse des quatre Evangiles (ringkasan Injil empat) karangan R.P. Benoit dan R.P. Boismard, guru-guru besar sekolah Bibel di Yerusalem (tahun 1972-1973) menekankan perkembangan teks dalam tahap-tahap yang sama dengan perkembangan tradisi. Hal tersebut menimbulkan akibat-akibat yang disebutkan oleh R.P. Benoit dalam membicarakan bagian yang ditulis oleh R.P. Boismard:

“Bentuk-bentuk kata-kata atau hikayat yang terjadi setelah perkembangan yang lama tidak mempunyai autentitas (kebenaran) yang terdapat dalam kata-kata asli. Barangkali banyak para pembaca yang heran atau kesal jika mereka mengetahui bahwa kata-kata Yesus, atau kiasannya atau ramalannya tentang nasibnya tidak pernah diucapkan seperti yang kita baca, akan tetapi sudah di retouche (diperbaiki) atau disesuaikan oleh orang-orang yang meriwayatkannya. Bagi mereka yang tidak biasa dengan penyelidikan sejarah semacam ini, hal ini mungkin menyebabkan keheranan bahkan kehebohan.”

Perbaikan teks dan penyesuaian yang dilakukan oleh mereka yang meriwayatkan teks tersebut kepada kita dilakukan menurut cara yang oleh R.P. Boismard digambarkan secara terperinci karena persoalan itu merupakan sambungan daripada teori dua sumber. Gambar atau skema itu dibuat setelah mengadakan penyelidikan dan perbandingan teks yang tak dapat diringkaskan di sini. Para pembaca yang ingin mengetahui dapat membaca bukunya, diterbitkan di Paris, cetakan Cerf.

Ada empat macam dokumen pokok yang merupakan sumber-sumber Injil. Dokumen tersebut dinamakan A, B, C, dan Q.

Dokumen A berasal dari lingkungan Yahudi Kristen yang memberikan inspirasi kepada Matius dan Markus.

Dokumen B adalah reinterpretasi dokumen A yang dipakai dalam Gereja Pagan Kristen (Kafir-Kristen). Dokumen ini telah memberi inspirasi kepada semua penulis Injil, kecuali Matius.

Dokumen C telah memberi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya.

Dokumen Q merupakan bagian besar daripada sumber bersama yang dipakai oleh Matius dan Lukas. Ini adalah dokumen bersama yang disebutkan dalam “teori dua sumber” yang tersebut di atas.

Di antara 4 macam dokumen tersebut tak ada yang menjadi teks definitif yang sekarang kita miliki, antara dokumen-dokumen tersebut dan redaksi terakhir ada redaksi-redaksi antara, yaitu yang oleh pengarangnya teori tersebut dinamakan: Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Dokumen-dokumen antara (intermedier) itulah yang akhirnya menjadi Injil empat, baik dengan memberi inspirasi kepada masing-masing Injil atau kepada lebih dan satu Injil-Injil. Di bawah ini adalah gambar yang menunjukkan silang-silang kompleks. ‘

Hasil daripada penyelidikan seperti ini adalah sangat penting, karena dapat menunjukkan bahwa teks-teks Injil yang mempunyai sejarah (hal ini akan kita bicarakan kemudian) juga mempunyai pra-sejarah, menurut istilah Boismard, artinya bahwa teks-teks tersebut telah mengalami perubahan-perubahan selama dalam tahap intermedier, sebelum mempunyai bentuk yang definitif. Dengan begitu, sekarang menjadi terang soal-soal seperti: riwayat ajaib tentang Yesus menangkap ikan. Riwayat tersebut dilukiskan oleh Lukas sebagai kejadian yang terjadi waktu Yesus masih hidup dan dilukiskan oleh Yahya sebagai hikayat Yesus menampakkan diri sesudah dibangkitkan sesudah mati.

 

R.P. BOISMARD

Ringkasan empat Injil

SKEMA UMUM

 

Dokumen Q ->|

|-> Matius inter

Dokumen A ->|

Dokumen A ->|

|

Dokumen B ->|-> Markus inter

|

Dokumen C ->|

Dokumen B ->|

|

Dokumen C ->|

|-> Proto Lukas ->|

Dokumen Q ->| |-> Lukas final

| Markus inter ->|

Matius inter ->|

 

 

Proto Lukas ->|

|

Markus inter ->|-> Markus final

|

Matius inter ->|

 

Matius inter ->|

|-> Matius final ->|

Markus inter ->| |

|

 

|-> Yahya final

Dokumen B ->| |

| |

Dokumen C ->|—-> Yahya —–>|

|

Proto Lukas ->|

 

Keterangan:

a, b, c, q = dokumen-dokumen dasar;

Mat. inter. = Matius intermedier

Mark. inter. = Markus intermedier

Proto Lukas = Lukas intermedier

Yahya = Yahya intermedier

Mat. final = redaksi final Matius

Mark. final = redaksi final Markus

Lukas final = redaksi final Lukas

Yahya final = redaksi final Yahya

 

Konklusi dari semua ini adalah bahwa dengan membaca Injil, kita tidak yakin sama sekali bahwa kita membaca katakata Yesus. R.P. Benoit memperingatkan pembaca Injil tentang hal ini, tetapi memberi ganti (kompensasi) sebagai berikut: Jika pembaca terpaksa tidak dapat mendengarkan suara langsung daripada Yesus, ia mendengar suara Gereja; pembaca Injil percaya kepada juru bahasa yang disahkan oleh Yesus, yang setelah pernah bicara di dunia ini sekarang berbicara dari langit.

Bagaimana kita dapat menyesuaikan pengakuan resmi bahwa beberapa teks Injil tidak autentik, dengan kalimat-kalimat Konsili Vatikan II tentang wahyu Ilahi yang meyakinkan kepada kita tentang terjadinya transmisi (periwayatan) yang jujur daripada kata-kata Yesus: “Injil empat yang diakui oleh Gereja tanpa ragu-ragu tentang sejarahnya, telah menyampaikan secara jujur apa-apa yang diperbuat dan diajarkan oleh Yesus, putra Tuhan bagi keselamatan abadi, yaitu selama ia hidup diantara manusia sampai ia diangkat ke langit.”

Nampaklah dengan jelas sekali bahwa hasil penyelidikan Sekolah Bibel di Yerusalem telah membantah keras deklarasi Konsili Vatikan II.

SEJARAH TEKS

Adalah salah jika kita mengira bahwa setelah disusun,Injil itu merupakan Kitab Suci pokok bagi agama Kristen, sehingga orang membaca dan mempergunakannya sebagai orang Yahudi membaca dan menggunakan Perjanjian Lama. Pada waktu itu yang menjadi autoritas adalah tradisi lisan yang membawakan kata-kata Yesus dan ajaran sahabat-sahabatnya. Tulisan pertama yang beredar dan bernilai sebelum Injil adalah surat-surat Paulus; bukankah surat-surat itu telah ditulis beberapa puluh tahun sebelum Injil?

Kita sudah membicarakan bahwa sebelum tahun 140 tak ada bukti bahwa orang mempunyai kumpulan tulisan-tulisan Bibel, walaupun beberapa orang ahli tafsir Injil menulis yang sebaliknya daripada itu. Kita harus menunggu sampai tahun 170 untuk melihat Injil memperoleh kedudukan literatur Kanon.

Pada tahun-tahun pertama setelah munculnya agama Kristen, beredarlah berrnacam-macam tulisan mengenai Yesus. Tulisan-tulisan itu tidak dianggap autentik dan Gereja memerintahkan supaya tulisan-tulisan itu disembunyikan. Inilah asal timbulnya kata: apokrif (Injil yang disembunyikan). Dari pada teks tulisan-tulisan tersebut ada sebagian yang terpelihara baik karena mendapat penghargaan umum, seperti surat atau ajaran Barnabas, tetapi banyak lainnya yang dijauhkan secara brutal sehingga yang ada sekarang hanya sisa-sisanya dalam bentuk fragmen. Begitulah yang dikatakan oleh Terjemahan Ekumenik. Karena dianggap sebagai penyebab kesesatan, maka tulisan-tulisan tersebut dianggap tidak ada. Walaupun begitu, karangan seperti Injil orang-orang Nazaret, Injil orang Ibrani, Injil orang Mesir yang diketahui oleh pendeta-pendeta gereja, mempunyai kedudukan yang hampir sama dengan Injil Kanon. Begitu juga Injil Tomas dan Injil Barnaba.

Diantara tulisan-tulisan apokrif (yang diperintahkan Gereja supaya disembunyikan) banyak yang memuat perinci-perinci yang bersifat khayalan, yaitu yang dihasilkan oleh imaginasi orang awam.

Banyak pengarang-pengarang tentang Injil aprokrif menyebutkan dengan rasa puas paragraf-paragraf yang menertawakan. Akan tetapi pengarang-pengarang semacam itu sesungguhnya dapat ditemukan dalam semua Injil. Kita masih ingat gambaran kejadian-kejadian khayalan yang oleh Matius dikatakan telah terjadi pada waktu matinya Yesus. Orang dapat menemukan paragraf-paragraf yang tidak serius dalam tulisan-tulisan puluhan tahun pertama daripada agama Kristen; tapi perlu kejujuran untuk mengenal tulisan-tulisan itu.

Terlalu banyaknya tulisan-tulisan mengenai Yesus mendorong Gereja yang sedang dalam pengorganisasian untuk melenyapkannya. Mungkin seratus Injil telah dimusnahkan. Hanya empat Injil tetap dipelihara untuk dimasukkan dalam daftar resmi naskah-naskah yang kemudian dinamakan “Kanon.”

Pada pertengahan abad II, Marcion mendesak pembesar-pembesar agama untuk mengambil sikap. Ia adalah musuh yang sangat benci terhadap orang-orang Yahudi. Ia menolak seluruh Perjanjian Lama, dan tulisan-tulisan yang muncul sesudah Yesus tidak ada lagi, yang nampak dekat atau berasal dari tradisi Yahudi Kristen. Marcion hanya mengakui tulisan-tulisan Paulus dan Injil Lukas, oleh karena ia mengira bahwa Lukas adalah juru bicara Paulus.

Gereja memaklumkan bahwa Marcion adalah orang murtad, dan memasukkan dalam Kanon segala surat-surat Paulus, serta Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya, dan menambahnya dengan beberapa tulisan lagi seperti Perbuatan Para Rasul. Meskipun begitu daftar resmi selalu berubah menurut waktu selama abad-abad pertama Masehi. Tulisan-tulisan yang kemudian dianggap tidak berharga (apokrif) termasuk dalam Kanon untuk sementara waktu, dan tulisan-tulisan yang termasuk dalam Kanon yang sekarang (Perjanjian Baru), pada waktu itu tidak termasuk di dalamnya. Rasa keragu-raguan menguasai tulisan-tulisan tersebut berlangsung sampai Konsili Hippione pada tahun 393 dan Konsili Carthage tahun 397. Tetapi Injil empat selalu termuat di dalam Kanon Kristen bersama. R.P. Boismard menyesalkan sekali hilangnya literatur yang banyak itu yang diputuskan oleh Gereja sebagai apokrif, oleh karena literatur tersebut mempunyai nilai sejarah yang besar, Boismard sendiri dalam bukunya Ringkasan empat Injil’ menilai tulisan-tulisan yang hilang itu sama pentingnya dengan Injil yang empat yang resmi. Buku-buku tersebut masih ada dalam perpustakaan-perpustakaan pada akhir abad IV M.

Abad IV adalah waktu pemberesan yang serius. Manuskrip Injil yang komplit dan yang tertua ditulis pada abad itu. Dokumen-dokumen sebelum itu, papirus-papirus abad III, satu papirus yang mungkin berasal daripada abad II hanya mengandung fragmen-fragmen. Dua manuskrip tua dari kulit adalah manuskrip Yunani dari abad IV. Dua manuskrip tersebut adalah: Codex Vatikanus yang kita tak tahu tempat penggaliannya, disimpan di Perpustakaan Vatikan dan yang satu lagi, Codex Sinaitikus yang terdapat di gunung Sinai sekarang disimpan di British Museum di London. Manuskrip ini mengandung dua tulisan apokrif.

Menurut Terjemahan Ekumenik di Dunia ini ada 250 manuskrip kulit, yang paling akhir adalah dari abad XI. Tetapi semua copy Perjanjian Baru yang sampai kepada kita adalah tidak sama, ada perbedaan-perbedaan penting, dan perbedaan itu banyak jumlahnya. Perbedaan-perbedaan itu ada yang hanya mengenai perincian gramatika, kalimat, atau urut-urutan kata, tetapi ada juga perbedaan yang merubah arti seluruh paragraf. Jika kita ingin mengetahui perbedaan teks, kita dapat membaca Novum Testamentum Graece (Perjanjian Baru Yunani). Buku tersebut memuat teks Yunani “tengah-tengah” yakni teks sintese, dengan catatan-catatan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam versi yang bermacam-macam.

Keaslian (autentitas) sesuatu teks manuskrip selalu dapat diperdebatkan, Codex Vatikanus dapat kita jadikan contoh. Penerbitan Vatikan pada tahun 1965 dibubuhi suatu peringatan asli yang mengatakan “beberapa abad sesudah copy asli (lebih-kurang abad X atau XI), seorang tukang naskah telah mengulangi tulisan manuskrip tersebut dengan tinta kecuali huruf-huruf yang dikira salah.” Ada bagian-bagian daripada manuskrip tersebut di mana terdapat huruf-huruf asli dengan wama coklat masih tetap kelihatan, dan merupakan kontras dengan teks yang lain yang ditulis dengan warna coklat tua. Kita tak dapat mengatakan bahwa perbaikan naskah itu dilakukan secara jujur. Peringatan tersebut di atas juga mengatakan: Belum dapat dibedakan secara definitif tangan-tangan yang banyak jumlahnya yang mengkoreksi atau menambah manuskrip asli selama berabad-abad; memang ada koreksi yang dibuat ketika teks tersebut diperbarui (dengan tinta baru). Padahal dalam semua teks, manuskrip-manuskrip selalu dikatakan sebagai copy abad IV. Kita harus membandingkan suatu teks dengan teks yang disimpan di Vatican untuk mengetahui apakah ada tangan-tangan yang merubah teks tersebut beberapa abad kemudian.

Orang dapat membantah dan mengatakan bahwa teks-teks lain juga dapat dipakai untuk perbandingan, tetapi bagaimana memilih perbedaan-perbedaan yang merubah arti? Kita tahu bahwa sebuah koreksi lama dari seorang tukang naskah dapat menyebabkan reproduksi definitif daripada teks yang telah dikoreksinya itu. Kita mengerti betul bagaimana suatu kata yang terdapat dalam Injil Yahya, yaitu kata Paraklet, telah merubah sama sekali arti paragraf dan membalikkan arti tersebut dari segi teologi.

Di bawah ini adalah tulisan O. Culmann mengenai perbedaan-perbedaan teks yang ditulis dalam bukunya: Perjanjian Baru.

“Perbedaan-perbedaan itu kadang-kadang terjadi karena kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja; umpamanya tukang naskah lupa menulis satu kata, atau sebaliknya menulis kata itu dua kali; atau mungkin juga sebagian kalimat (phrase) tak tertulis oleh karena bagian itu terletak dalam manuskrip si tukang naskah, antara dua kata yang sama. Kadang-kadang perbedaan teks itu disebabkan oleh karena koreksi-koreksi yang dilakukan dengan sengaja; atau tukang naskah memberanikan diri untuk mengkoreksi teks menurut pikirannya pribadi, atau si tukang naskah ingin menyesuaikan teksnya dengan teks lain, untuk menghilangkan perbedaan. Ketika tulisan-tulisan yang terkumpul dalam Perjanjian Baru diputuskan untuk dipisahkan dan literatur Kristen primitif (terdahulu) dan dianggap sebagai Kitab Suci, maka para ahli naskah tidak berani lagi untuk melakukan koreksi terhadap pekerjaan-pekerjaan tukang naskah sebelum mereka; mereka mengira bahwa mereka membuat copy dari teks asli dan dengan begitu mereka sudah mengokohkan perbedaan-perbedaan yang ada. Kadang-kadang tukang naskah menulis catatan di pinggir halaman untuk menerangkan suatu kalimat yang tidak terang. Tukang naskah yang datang kemudian mengira bahwa kalimat yang tertulis di pinggir halaman itu merupakan kalimat yang tadinya telah dilupakan oleh seorang tukang naskah sebelumnya, dan ia merasa perlu untuk memasukkan catatan pinggiran tersebut ke dalam teks. Dengan begitu, dapat terjadi pula bahwa teks yang baru itu menjadi lebih kabur.

Tukang-tukang naskah beberapa manuskrip bersikap sangat leluasa terhadap teks. Ini adalah kasus tukang naskah suatu manuskrip yang sangat terhormat setelah dua manuskrip tersebut di atas, yaitu: Codex Bezae Cantabrigiensis dari abad VI. Tukang naskah menemukan perbedaan antara silsilah keturunan Yesus dalam Injil Lukas dan dalam Injil Matius; kemudian ia memasukkan silsilah Matius ke dalam naskah Injil Lukas yang dimiliki; tetapi karena yang dalam Injil Lukas memuat lebih sedikit nama-nama orang dalam silsilah, maka ia beri tambahan-tambahan (tetapi tak berhasil mengadakan penyesuaian).

Apakah terjemahan Latin seperti Vulgate karya Yerome (abad IV) dan terjemahan-terjemahan yang lebih kuno (Vetus Itala), terjemahan bahasa Syriaq dan bahasa Kibti (Mesir kuno), semua itu lebih jujur daripada manuskrip Yunani? Terjemahan-terjemahan tersebut mungkin dibikin menurut manuskrip yang lebih kuno tetapi yang sudah hilang. Kita tidak tahu.

Orang telah berhasil mengelompokkan teks-teks Injil dalam beberapa kelompok yang masing-masing mempunyai ciri-ciri umum. O. Culmann membagi sebagai berikut:

  1. Teks Syria yang mungkin menjadi dasar manuskrip-manuskrip Yunani yang sangat kuno. Teks ini tersiar di Eropah pada abad XVI, sudah berupa cetakan. Teks ini adalah teks yang terburuk menurut pendapat para ahli.
  2. Teks Barat, dengan versi Latin yang kuno dan dengan Codex Bezae Cantabrigiensis Yunani dan Latin. Menurut Terjemahan Ekumenik teks tersebut mempunyai ciri-ciri suka kepada penafsiran, kepada hal-hal yang kurang tepat kepada ulangan kata-kata (paraphrase) dan kepada penyesuaian (harmonisasi).
  3. Teks netral yang juga meliputi Codex Vatikanus dan Codex Sinaitikus, teks ini dipandang jauh lebih murni. Cetakan-cetakan modern daripada Perjanjian Baru mengikutinya, meskipun sesungguhnya teks ini juga mengandung banyak cacad (Terjemahan Ekumenik).

“Kritik teks paling jauh hanya memberikan kesempatan kepada kita untuk mencoba menyusun kembali suatu teks yang mendekati teks asli. Akan tetapi sudah terang tak ada jalan untuk sampai kepada teks asli tersebut.” (Terjemahan Ekumenik).

IV. INJIL-INJIL DAN SAINS MODERN

SILSILAH KETURUNAN YESUS

Injil-Injil hanya mengandung sedikit sekali kalimat-kalimat yang dapat menimbulkan pertentangan dengan hasil-hasil Sains modern. Banyak hikayat dalam Injil yang menggambarkan mukjizat tidak mendapat penafsiran ilmiah. Mukjizat-mukjizat itu ada yang berhubungan dengan orang seperti penyembuhan orang sakit (gila, buta, lumpuh, lepra, menghidupkan Lazarus yang sudah mati), dan ada pula yang mengenai fenomena material, di pinggir batas hukum alam (Yesus berjalan di atas air, Yesus mengganti air jadi anggur). Hal-hal tersebut mungkin hanya merupakan fenomena yang wajar tetapi dengan aspek yang luar biasa oleh karena terjadi dalam waktu yang sangat singkat seperti angin topan yang berhenti seketika, pohon tien yang kering mendadak, atau seperti mencari ikan secara ajaib, seakan-akan seluruh ikan yang ada dalam danau itu berkumpul di tempat di mana jala dilempar. Dalam kejadian-kejadian tersebut, Tuhan campur tangan dengan kekuasaanNya. Kita tidak usah keheran-heranan bahwa Tuhan itu dapat berbuat hal yang mengherankan bagi manusia, tetapi bagi Tuhan merupakan hal biasa. Ini tidak berarti bahwa seorang yang percaya tidak memerlukan berhubungan dengan Sains. Percaya kepada mukjizat dan percaya kepada Sains adalah tidak bertentangan. Yang pertama adalah tahap ketuhanan yang kedua adalah tahap kemanusiaan.

Secara pribadi saya dengan senang hati dapat percaya bahwa Yesus menyembuhkan orang sakit lepra, tetapi saya tidak dapat menerima suatu teks yang dikatakan autentik dan diwahyukan Tuhan sedangkan dalam teks tersebut saya dapatkan bahwa antara manusia pertama dengan Nabi Ibrahim hanya berselisih waktu 20 generasi, seperti yang dikatakan Injil Lukas (3, 23-28). Kita akan lihat sebentar lagi sebab-sebab yang membuktikan bahwa teks Lukas, seperti juga teks Perjanjian Lama tentang hal yang sama, telah disusun menurut imajinasi manusia.

Injil (seperti Al Qur-an) memberikan kita riwayat yang sama mengenai asal-usul biologis Yesus. Membesarnya Yesus dalam kandungan ibunya di luar hukum-hukum alam yang umum bagi seluruh manusia. Biji telor dari ibunya tidak memerlukan bertemu dengan spermatozoid bapak untuk membentuk suatu embryo yang kemudian menjadi bayi. Fenomena yang berakhir dengan dilahirkannya seorang yang normal, tidak dengan campuran dan unsur lelaki, dinamakan parthenogenese. Dalam alam binatang parthenogenese dapat terjadi dengan syarat-syarat tertentu. Seperti halnya serangga, beberapa hewan invertebrata, dan secara sangat jarang, dalam jenis-jenis burung tertentu. Di antara binatang yang menyusui, orang dapat mengadakan percobaan dengan kelinci yang memperoleh perkembangan biji telor tanpa campur tangan spermatozoid dan menjadi embryo yang sederhana tetapi orang tidak dapat menemukan kelinci yang menunjukkan parthenogenese sempurna, secara eksperimental atau secara natural. Tetapi Yesus merupakan kasus parthenogenese. Ibunya adalah perawan dan tetap perawan serta tidak mempunyai anak selain Yesus: Yesus adalah kekecualian biologik.18

SILSILAH KETURUNAN YESUS

Dua silsilah keturunan yang terdapat dalam Injil Matius dan Injil Lukas menimbulkan persoalan tentang kebenaran, persesuaian dengan hasil-hasil ilmiah dan juga persoalan “autentik atau tidak.” Problema-problema ini sangat menyulitkan ahli-ahli tafsir Kristen oleh karena mereka menolak untuk melihatnya sebagai hasil imajinasi manusia; Imajinasi manusia ini telah memberikan inspirasi kepada para pengarang-pengarang Sakerdotal (pendeta-pendeta) daripada Kitab Kejadian di abad VI S.M. untuk silsilah keturunan manusia-manusia pertama. Imajinasi manusia itu pulalah yang memberi inspirasi kepada Matius dan Lukas dalam hal-hal yang kedua pengarang Injil itu tidak mengambil dari Perjanjian Lama. Yang perlu kita perhatikan adalah bahwa silsilah keturunan laki-laki tidak ada artinya sama sekali bagi Yesus. Jika orang ingin memberikan silsilah keturunan kepada Yesus, anak tunggal daripada Maryam, tanpa bapa, maka silsilah keturunan itu harus silsilah keturunan Maryam, ibunya. Di bawah ini adalah teks menurut Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, Perjanjian Baru.

Silsilah keturunan menurut Matius terdapat pada permulaan Injilnya.

KITAB ASAL-USUL YESUS KRISTUS, ANAK DAUD, ANAK IBRAHIM

Ibrahim mempunyai anak Ishak

Ishak mempunyai anak Yakub

Yakub mempunyai anak Yuda dan saudara-saudaranya

Yuda mempunyai anak Phares dan Zara daripada Thamar

Phares mempunyai anak Esrom

Esrom mempunyai anak Aram

Aram mempunyai anak Aminabad

Aminabad mempunyai anak Naasson

Naasson mempunyai anak Salmon

Salmon mempunyai anak Booz daripada Rahad

Booz mempunyai anak Yobed daripada Ruth

Yobed mempunyai anak Yesse

Yesse mempunyai anak Nabi Daud

Daud mempunyai anak Suleman (dari istri Urie)

Suleman mempunyai anak Roboam

Roboam mempunyai anak Abia

Abia mempunyai anak Asa

Asa mempunyai anak Yosaphat

Yosaphat mempunyai anak Yoram

Yoram mempunyai anak Ozias

Ozias mempunyai anak Yoathan

Yoathan mempunyai anak Achaz

Achaz mempunyai anak Ezechias

Ezechias mempunyai anak Manasse

Manasse mempunyai anak Amon

Amon mempunyai anak Yosias

Yosias mempunyai anak Yechonias dan saudara-saudaranya

 

Kemudian terjadi pengasingan di Babylon.

Sesudah Pengasingan:

Yechonias mempunyai anak Salathiel

Salathiel mempunyai anak Zorobabel

Zorobabel mempunyai anak Abioud

Abioud mempunyai anak Eliakim

Eliakim mempunyai anak Azor

Azor mempunyai anak Sadok

Sadok mempunyai anak Akhim

Akhim mempunyai anak Elioud

Elioud mempunyai anak Eleazar

Eleazar mempunyai anak Mathan

Mathan mempunyai anak Yacob

Yacob mempunyai anak Yusuf, suami Maryam, yang melahirkan Isa yang dinamakan Al Masih.

Jumlah generasi adalah 14 dari Ibrahim ke Daud, 14 dari Daud hingga pengasingan di Babylon, 14 dari pengasingan sampai Isa Al Masih.

 

Lukas (3, 23-38) memberikan silsilah keturunan yang berlainan dari silsilah Matius. Kita kutipkan di bawah ini dari Terjemahan Ekumenik.

“Yesus pada permulaannya berumur kira-kira 30 tahun. Ia adalah anak Yoseph, anak Heli anak Matthat, anak Levis, anak Melechi, anak Iannai, anak Yoseph, anak Matthatias, anak Amos, anak Naaum, anak Hesti, anak Naggai, anak Maath, anak Mattathias, anak Semein, anak Yosech, anak Ioda, anak Ionam, anak Resa, anak Zorobabel, anak Salathiel, anak Neri, anak Melchi, anak Addi, anak Kosam, anak Elmadam, anak Er, anak Yesus, anak Elieser, anak Yorim, anak Matthat, anak Levi, anak Symeon, anak Yuda, anak Yoseph, anak Ionam, anak Eliakim, anak Melea, anak Menna, anak Mattalha, anak Natham,anak David, anak Yesse, anak Iobed, anak Boos, anak Sola, anak Naasson, anak Aminabad, anak Admin, anak Arni, anak Esrom, anak Phares, anak Yuda, anak Yacob, anak Isaac, anak Abraham, anak Thara, anak Nachor, anak Serauch, anak Ragau, anak Phalek, anak Eber, anak Sala, anak Kainam, anak Arphaxad, anak Sem, anak Noe, anak Lamech, anak Mathausala, anak Enoch, anak Iaret, anak Maleleel, anak Kainam, anak Enos, anak Seth, anak Adam, anak Allah.”

Silsilah-silsilah tersebut alcan Icelihatan lebih terang jika kita gambarkan dua daftar yang satu menggambarkan silsilah sebelum David, dan yang satu lagi menggambarkan silsilah sesudah David.

SILSILAH YESUS SEBELUM DAVID

Menurut Matius

Menurut Lukas

Matius Tidak Menyebutkan Sesuatu Sebelum Abraham

  1. Adam
  2. Seth
  3. Enos
  4. Kainam
  5. Maleleel
  6. Zaret
  7. Enoch
  8. Mathausala
  9. Lamech
  10. Nae
  11. Sem
  12. Arphaxad
  13. Kainam
  14. Sala
  15. Eber
  16. Phalek
  17. Ragau
  18. Serauch
  19. Nachor
  20. Thara
  1. Abraham
    1. Isaac
    2. Yacob
    3. Yuda
    4. Phares
    5. Esrom
    6. Arni

      -

    7. Adminabad
    8. Naasson
    9. Salmon
    10. Booz
    11. Yabed
    12. Yesse
    13. David
  1. Abraham
  2. Isaac
  3. Yacob
  4. Yuda
  5. Phares
  6. Esrom
  7. Arni
  8. Admin
  9. Adminabad
  10. Naasson
  11. Sala
  12. Booz
  13. Yabed
  14. Yesse
  15. David

Silsilah Yesus Sesudah David

Menurut Matius

Menurut Lukas

David

  1. Salomon
  2. Roboam
  3. Abia
  4. Asa
  5. Yosaphat
  6. Yoram
  7. Azias
  8. Yoathan
  9. Achaz
  10. Ezechias
  11. Manasse
  12. Amon
  13. Yosias
  14. Yechonias

     

 

Pengasingan di Babylon

 

 

  1. Salathiel
  2. Zorobabel
  3. Abioud
  4. Eliakim
  5. Azor
  6. Sadok
  7. Akhim
  8. Eliaud
  9. Eleazar
  10. Mathan
  11. Yacob
  12. Yoseph
  13. YESUS

David

  1. Natham
  2. Matlatha
  3. Menna
  4. Melea
  5. Eliakim
  6. Ionam
  7. Yoseph
  8. Yoda
  9. Symeon
  10. Levi
  11. Matthat
  12. Iorim
  13. Elieser
  14. Yesus
  15. Er
  16. Elmadam
  17. Kosam
  18. Addi
  19. Melchi
  20. Neri
  21. Salathiel
  22. Zorobabel
  23. Resa
  24. Ionan
  25. Ioda
  26. Iosech
  27. Semein
  28. Malthatheas
  29. Maalh
  30. Nagar
  31. Hesle
  32. Naaum
  33. Amos
  34. Mattatheas
  35. Yoseph
  36. Iannai
  37. Melchi
  38. Levi
  39. Matthat
  40. Heli
  41. Yoseph
  42. YESUS

Perbedaan-Perbedaan Menurut Manuskrip dan dalam Hubungannya dengan Perjanjian Lama Dengan mengenyampingkan perbedaan tulisan (orthographiq), kita sebutkan:

a). Injil Matius

Silsilah keturunan telah hilang dari Codex Bezae Cantabrigiensis, suatu manuskrip yang sangat penting dari abad VI dalam dua bahasa, Yunani dan Latin. Yang hilang dan teks Yunani adalah seluruh silsilah, sedang yang hilang dali teks Latin hanya sebagian besar. Tetapi hal ini mungkin hanya disebabkan oleh hilangnya halaman-halaman pertama. Perlu kita sebutkan kebebasan yang sangat besar yang ditunjukkan oleh Matius dalam sikapnya terhadap Perjanjian Lama yang ia potong silsilahnya untuk keperluan penyajian dengan angka (yang pada akhirnya tidak ia lakukan seperti yang akan kita lihat).

b). Injil Lukas

  1. Sebelum Nabi Ibrahim, Lukas menyebutkan 20 nama. Perjanjian Lama hanya menyebutkan 19 (silahkan lihat tabel keturunan Adam dalam bagian yang khusus untuk Perjanjian Lama, Lukas menambah sesudah Arphaxad (no. 12) nama Kainam (no. 13) yang tak tersebut dalam Kitab Kejadian sebagai anak Arphaxad.
  2. Dari Nabi Ibrahim sampai nabi Daud kita dapatkan 14-16 nama menurut manuskrip.
  3. Dari Nabi Daud sampai Nabi Isa.

Perbedaan yang sangat penting adalah perbedaan yang terdapat dalam Codex Bezae Cantabrigiensis yang menisbatkan suatu silsilah khayalan kepada Lukas dan silsilah itu terdiri dari silsilah Matius yang sudah ditambah oleh orang yang bikin naskah dengan lima nama. Sayang, silsilah Injil Matius dalam manuskrip tersebut telah hilang, sehingga kita tak dapat mengadakan perbandingan.

PENYELIDIKAN KRITIK MENGENAI TEKS

Di sini kita berhadapan dengan dua silsilah yang mempunyai sifat yang sama, yakni mulai dari Ibrahim dan Dawud. Unttzk memudahkan penyelidikan ini, kita akan menjadikan silsilah tersebut menjadi tiga bagian-bagian:

  1. dari Adam sampai Ibrahim
  2. dan Ibrahim sampai Dawud
  3. dari Dawud sampai Yesus.
  1. PERIODE DARI ADAM SAMPAI IBRAHIM

Matius yang memulai silsilahnya dari Ibrahim tidak ada hubungannya dengan periode ini. Lukas memberi keterangan tentang nenek moyang Nabi Ibrahim sehingga Adam; 20 nama, diantaranya 19 nama terdapat dalam Kitab Kejadian (fasal 4, 5 dan 11). Dapatkah kita gambarkan bahwa sebelum nabi Ibrahim hanya ada 19 atau 20 generasi manusia? Soal ini telah kita selidiki ketika kita membahas Perjanjian Lama. Jika kita ingin mendasarkan penyelidikan kita kepada tabel keturunan Adam seperti yang disebutkan dalam Kitab Kejadian dan menerima angka waktu yang ditunjukkan oleh teks Bibel, kita akan mendapat kesimpulan bahwa antara munculnya manusia pertama di atas bumi dengan lahirnya Nabi Ibrahim terdapat 19 abad. Orang memperkirakan bahwa Nabi Ibrahim hidup sekitar tahun 1850 S.M. Dengan begitu maka petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam Perjanjian Lama menerangkan bahwa munculnya manusia di atas bumi terjadi pada 38 abad sebelum Yesus. Nampak sekali bahwa Lukas memakai bahan-bahan ini untuk Injilnya. Ia menyebutkan suatu kekeliruan besar untuk menerangkan mengapa ia memakai bahan-bahan tersebut. Kita telah membaca argumentasi sejarah yang meyakinkan yang mendorong kepada pikiran ini.

Hal-hal yang tersebut dalam Perjanjian lama tak dapat diterima lagi pada waktu ini. Bahan-bahan tersebut termasuk dalam golongan “Caduc” (lemah) yang dinyatakan oleh Konsili Vatikan II. Akan tetapi anggapan bahwa para pengarang Injil memakai bahan-bahan yang tidak sesuai dengan Sains modern, merupakan suatu keterangan yang sangat berbahaya bagi mereka yang mempertahankan faham bahwa teks Injil adalah sesuai dengan sejarah.

Para ahli tafsir merasakan bahaya ini. Mereka berusaha untuk mengelakkan kesulitan dengan mengatakan bahwa persoalannya bukan persoalan silsilah yang sempurna, bahwa ada nama-nama yang ditinggalkan oleh penulis Injil dengan sengaja, dan persoalan yang pokok adalah untuk membuktikan dalam garis-garis besar atau dalam unsur-unsurnya yang penting suatu garis yang didasarkan atas realistis sejarah. Disebutkan oleh A. Tricot dalam bukunya: Kamus Kecil tentang Perjanjian Baru, (Petit Dictionnaire du Noaveau Testament). Dalam teks Injil tak ada yang memungkinkan penafsiran semacam itu, karena teks itu teliti; A punya anak B, B punya anak C adalah anaknya B, dan B adalah anaknya A. Dan lagi mengenai periode sebelum Abraham, para penulis Injil mengambil bahan dari Perjanjian Lama, di mana silsilah itu diterangkan sebagai berikut: X pada umur sekian mempunyai anak Y, Y hidup sekian tahun dan mempunyai anak Z. Jadi tak terdapat hal-hal yang putus.

Bagian sebelum Nabi Ibrahim dalam silsilah Yesus menurut Lukas tidak dapat diterima atas dasar pengetahuan modern.

  1. PERIODE DARI ABRAHAM SAMPAI DAVID

Di sini, dua silsilah itu cocok atau hampir cocok, kecuali dalam satu atau dua nama. Kesalahan yang tidak disengaja daripada tukang-tukang naskah dapat dijadikan alasan.

Apakah para penulis Injil benar mengenai periode ini?

Dawud dikatakan hidup sekitar tahun 1000 S.M., Ibrahim di sekitar tahun 1800-1850 S.M.

Apakah 14-16 generasi dapat hidup selama 8 abad? Tapi baiklah kita katakan saja bahwa teks Injil, mengenai periode ini, masih dalam batas hal-hal yang dapat diterima

  1. PERIODE SESUDAH DAVID

Sayang, teks tidak mungkin lagi membuktikan bahwa Yoseph itu keturunan David.

Kita tinggalkan saja pemalsuan yang terang daripada Codex Bezae Cantabrigiensis yang mengenai Lukas, dan marilah mengadakan perbandingan tentang hal-hal yang diriwayatkan oleh dua manuskrip yang sangat terhormat, yakni Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus.

Dalam silsilah Lukas, kita dapatkan 42 nama sesudah David (no. 35) sampai Yesus (no. 77). Dalam silsilah Matius kita dapatkan 27 nama sesudah David (no. 14) sehingga Yesus (no. 41). Dengan begitu maka jumlah nenek moyang Yesus (fiktif) sesudah David dalam dua manuskrip terhormat tersebut berlainan. Nama-nama dalam silsilah tersebut juga berlainan.

Tetapi ada lagi yang ajaib. Matius mengatakan bahwa silsilah Yesus semenjak Ibrahim terdiri dari tiga kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 14 nama. Kelompok pertama, dari Ibrahim sampai Dawud. Kelompok kedua, dari Dawud sampai pengasingan. Sedang kelompok ketiga, dari pengasingan di Babylon sampai Yesus. Teks Matius memang memuat 14 nama dalam kelompok pertama dan kedua, akan tetapi dalam kelompok ketiga (dari pengasingan di Babylon sampai Yesus) kita hanya mendapatkan 13 nama dan bukan 14 seperti yang kita harapkan, oleh karena tabel yang dikemukakan menunjukkan bahwa Salathiel adalah nomer 29 dan Yesus nomor 41. Tidak ada riwayat yang berbeda dengan Matius yang menyebutkan 14 nama untuk kelompok ketiga.

Akhirnya agar berhasil mendapatkan 14 nama dalam kelompok kedua, Matius mempergunakan kebebasan terhadap teks Perjanjian Lama. Nama-nama daripada 6 keturunan David yang pertama (no. 15 sampai 20) sesuai dengan apa yang tersebut dalam Perjanjian Lama. Akan tetapi tiga keturunan Ioram (no. 20) yang dikatakan dalam bab dua daripada kitab Tawarikh dalam Bibel sebagai Achazia, Yoas dan Amalsia, telah dihapuskan oleh Matius. Begitu juga, Yechonias (no. 28) disebutkan oleh Injil Matius sebagai anak Yosias (no. 27), padahal dalam kitab Raja-raja yang pertama daripada Perjanjian Lama terdapat nama Eliakim diantara Yosias dan Yechonias.

Dengan ini telah terbukti bahwa Matius telah merubah urutan silsilah yang terdapat dalam Perjanjian Lama untuk menonjolkan suatu kelompok buat-buatan yang terdiri daripada 14 nama, antara Nabi Dawud dan pengasingan ke Babylon.

Sesungguhnya kita tidak begitu heran mendapatkan bahwa dalam kelompok ketiga yang disajikan oleh Matius terdapat satu nama yang kurang, sehingga tak ada teks Injil Matius yang menyebutkan 42 nama seperti yang Matius umumkan, hal ini dapat saja dijelaskan dengan mengatakan bahwa seorang tukang naskah membuat kesalahan. Akan tetapi kita sangat heran karena para ahli tafsir Injil bersikap tutup mulut mengenai hal ini. W. Trilling, berbeda dari para ahli tafsir Injil, menulis satu baris mengenai hal tersebut dalam bukunya: Injil Matius. “Sesung-. guhnya persoalan ini tidak boleh diabaikan begitu saja oleh karena para ahli tafsir Injil, termasuk pengarang-pengarang Terjemahan Ekumenik dan Kardinal Danielou telah menunjukkan pentingnya simbol 3 kali 14 yang telah disebut oleh Matius. Untuk menonjolkan hal tersebut, bukanlah Matius sendiri telah menghilangkan beberapa nama yang tersebut dalam Bibel agar berhasil pembuktiannya tentang angka yang keramat itu.”

Nanti akan kita lihat bahwa para ahli tafsir Injil akan membentuk suatu apologetik (cara mempertahankan agama) dengan membenarkan dihapuskannya beberapa nama, tetapi mereka tergelincir mengenai kekurangan-kekurangan nama sehingga mereka tidak berhasil mencapai hal yang diinginkan oleh Matius, si pengarang Injil.

  1. TAFSIRAN PARA AHLI TAFSIR MODERN

Kardinal Danielou, dalam karangannya Les Evangiles de l’enfance (Injil Masa Kanak-kanak, terbit tahun 1967), setuju dengan daftar angka yang dibuat oleh Matius dan mengatakan bahwa daftar tersebut mempunyai nilai yang sangat tinggi, karena daftar itu menunjukkan silsilah asal usul Yesus, yang juga-diterangkan oleh Lukas. Bagi Kardinal Danielou, “Lukas dan Matius adalah ahli sejarah yang telah mengadakan penyelidikan sejarah, dan silsilah keturunan telah dikutip dari arsip keluarga Yesus.” Perlu diterangkan di sini bahwa arsip tersebut tak pernah ditemukan orang.

Kardinal Danielou, menyerang orang-orang yang mengkritik pendiriannya dengan kata-kata: “itu adalah mental orang Barat, kebodohan tentang agama Yahudi Kristen, ketidakadanya perasaan Semitik, yang telah menyesatkan beberapa ahli tafsir dalam memberi interpretasi kepada Injil. Mereka itu telah mempergunakan kategori Plato, Descartes, Hegel dan Heidegger. Memang ada suatu yang keruh dalam pikiran mereka.” Sudah terang bahwa Plato, Descartes, Hegel dan Heidegger tidak ada hubungannya dengan sikap kritik terhadap silsilah keturunan yang bersifat khayalan.

Pengarang (Kardinal Danielou) menyelidiki arti 3 x 14 yang disebutkan Matius, dan membuat hipotesa-hipotesa seperti berikut: “Mungkin ada hubungannya dengan 10 minggu yang terkenal dalam hal-hal rahasia dari agama Yahudi, tiga minggu pertama yang mirip dengan periode dari Adam sampai Abraham, harus dihilangkan. Tinggal 7 minggu; enam minggu pertama merupakan tiga grup yang masing-masing terdiri dari 14 nama, dan minggu yang terakhir dimulai oleh Kristus yang memulai periode ke 7 daripada Dunia.” Penjelasan semacam itu tak perlu diberi komentar.

Ahli-ahli tafsir “Terjemahan Ekumenik Bibel” -Perjanjian Baru- memberikan pembelaan dengan angka yang tidak kita sangka.

Untuk angka 3 x 14 yang dikemukakan oleh Matius: 14, mungkin merupakan jumlah nilai huruf yang membentuk nama Dawud dalam bahasa Ibrani D = 4, V = 6. Jadi jumlahnya 4+6+4 = 14.

Bagi Lukas, Terjemahan Ekumenik memberikan 77 nama. Hal ini memberi peluang untuk mengatakan bahwa angka 7 itu dasar. 7 x 11 = 77. Padahal kita sudah tahu bahwa bagi Lukas yang main hapus dan tambah, daftar yang memuat 77 nama itu sama sekali buat-buatan.

Silsilah Yesus dalam Injil-lnjil merupakan masalah yang menimbulkan permainan kata-kata yang sangat menyolok di antara para ahli tafsir Kristen, dan memang hal tersebut adalah sesuai dengan khayalan Lukas dan Matius.

Catatan Kaki:

1 Yang dimaksud dengan Torah ialah kitab-kitab lima yang pertama dalam Bibel yaitu: Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat orang Levi, Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan.

2 Teks Yahwist yakni teks yang di dalamnya, Tuhan dinamakan Yahweh. Teks Elohist yakni teks yang di dalamnya, Tuhan dinamakan Elohim. Teks Sakerdotal yakni teks yang berasal dari pendeta-pendeta di temple Yerusalem.

3 Kerajaan Utara dinamakan Negara Israil, terdiri dari 10 suku; berasal dari 10 orang anak Ya’kub. Kerajaan Selatan dinamakan Negara Yuda, terdiri dari 2 suku, berasal dari 2 orang anak Ya’kub.

4 Dalam fasal yang segera akan datang, pembaca dapat melihat kekeliruan-kekeliruan yang menjadi jelas setelah dihadapkan dengan bahan-bahan baru dari sains; kekeliruan-kekeliruan tersebut mengenai umur manusia di bumi, keadaan-keadaan pada waktu Tuhan menciptakan alam; kekeliruan-kekeliruan tersebut adalah disebabkan oleh perubahan-perubahan teks yang dilakukan oleh manusia.

5 Yakni pelacur yang bertugas dalam temple.

6 Teks Inggris berbunyi: “Now the books of the old testaments, in accordance with the state of mind before the time of salvation established by Christ, reveal to all men the knowledge of God and of man and the ways in which God, just and merciful, deals with men. These books, though they also contain some things which are incomplete and temporary, nevertheless show us true devine pedagogy.” (Saya merasa terjemahan Inggeris kurang teliti; Rasjidi).

7 Yudas atau Yudas Eskariot adalah seorang sahabat Nabi Isa yang mengkhianatinya dengan melaporkan tempat Nabi Isa berada kepada tentara pendudukan Romawi di Palestina.

8 Buku-buku tersebut di atas kemudian diputuskan sebagai apokrif artinya buku yang harus disembunyikan oleh Gereja yang kemudian menang dengan pimpinan Paulus.

9 Injil Sinoptik adalah Injil-Injil karangan Markus, Matius dan Lukas. dinamakan Sinoptik karena hampir sama dalam pandangannya.

10 Kontradiksi silsilah keturunan Yesus dalam Injil Matius dengan silsilah dalam Injil Lukas akan dibahas dalam satu bab khusus.

11 Kaum Samaria adalah orang-orang yang mengikuti Hukum Taurah. Mereka menunggu kedatangan Antara lain Masih dan setia melakukan upacara-upacara Yahudi, akan tetapi mereka mendirikan satu temple sebagai saingan terhadap temple di Yerusalem.

12 Kita bertanya apakah tidak mungkin ada masyarakat Yahudi Kristen juga di Alexandria. Sesungguhnya O. Culmann juga menyebutkan hipotesa ini.

13 Suatu film dari Amerika tentang Yesus tetapi merubah sejarah Yesus.

14 Dalam paragraf lain dalam Injilnya, Matius menyebutkan hikayat ini juga, akan tetapi tidak menyebutkan waktunya secara tepat (16, 1-4). Begitu juga Lukas (11, 29-32), Markus sebagaimana kita akan lihat, menyebutkan Yesus berkata bahwa Ia tidak akan memberi alamat kepada generasi ini (Markus 8, 11-12).

15 Ekaristi adalah suatu sakramen (upacara) yang menghidangkan roti dan anggur. Roti itu dianggap sebagai daging Yesus dan anggur merupakan darahnya. Roti dimakan dan anggur diminum deh umat Katolik.

16 Paskah: Upacara peringatan keluarnya orang Yahudi dari Mesir dengan menyeberangi lautan di bawah pimpinan Musa.

17 Sinoptik, adalah Injil Matius, Markus dan Lukas.

18 Injil-lnjil menyebutkan saudara-saudara daripada Yesus (Matius 13, 46-50), (Markus 6, 1-6) (Yahya 7, 3 dan 2, 12). Kata Yunani yang dipakai adalah Adelphai dan Adelphai memang berarti saudara lelaki atau perempuan dalam arti biologik. Tentu saja disini telah terjadi terjemahan yang salah daripada kata Semit yang berarti dekat (familiar), dan tidak lebih. Barangkali yang dimaksudkan disini adalah saudara-saudara sepupu.

Rasjidi

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern – DR. MAURICE BUCAILLE – Judul Asli : LA BIBLE LE CORAN ET LA SCIENCE – Alih bahasa : PROF. DR. H.M. RASYIDI – Penerbit : BULAN BINTANG, 1979 : Kramat Kwitang I/8 Jakarta

About these ads

Posted on 5 Desember 2010, in Maurice Bucaille. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Jakarta (voa-islam) – Buku berjudul Koreksi Kesalahan Terjemah Harfiyah Al-Qur’an Kemenag RI” yang ditulis oleh Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Muhammad Thalib, memuat sebagian kecil dari 3.229 jumlah kesalahan terjemah yang terdapat dalam Tarjamah Harfiyah Al-Quran versi Depag. Sementara kesalahan pada edisi revisi tahun 2010 bertambah menjadi 3.400 ayat.

    Seperti diketahui, penelaahan selama bertahun-tahun terhadap Al-Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitan Departemen Agama RI sejak 1965, kemudin mengalami revisi secara bertahap mulai 1989, 1998, 2002, hingga 2010, telah menyentak kesadaran iman kita, betapa selama ini ajaran kitab suci Al-Qur’an ternodai akibat adanya salah terjemah yang jumlahnya sangat banyak.

    “Maka, kami tidak hanya sebatas koreksi, tapi juga menerbitkan Tarjamah Tafsiriyah Al-Qur’an lengkap 30 juz, sebagai tanggungjawab meluruskan terjemah harfiyah yang salah dari Al-Qur’an dan Terjemahnya versi Kemenag RI. Adapun Buku Koreksi Kesalahan Terjemah Harfiyah Al-Qur’an Kemenag RI ini hanya memuat 170 ayat saja. Karena sangat prinsip yang harus segera diketahui kaum muslim. Sebab tidak mungkin membukukan kesalahan terjemah 3.229 ayat sekaligus dalam waktu dekat ini,” kata Ustadz Thalib.

    Dijelaskan Amir Majelis Mujahidin, ayat salah terjemah itu berkaitan dengan masalah akidah, syariah, dan mu’amalah. Khususnya menyangkut problem terorisme, liberalism, dekadensi moral, aliran sesat dan hubungan antar umat beragama.

    Dalam Simposium Nasional bertema: “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme” di Jakarta, Rabu 28 Juli 2010, Dirjen Bimas Islam Kemenag dan sekarang menjadi Wamenag, Prof. Dr. Nasaruddin Umar dengan gamblang menyatakan: sejumlah ayat berpotensi untuk mengajak orang beraliran Islam keras, karena itu dalam terjemahan Al-Qur’an versi baru pemerintah menyusun kata yang lebih moderat, namun memiliki makna yang sama.

    Selain meluncurkan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an versi baru, Kemenag juga melakukan upaya deradikalisasi lain, yaitu pembinaan pengurus masjid oleh 95 ribu penyuluh agama hingga ke pedesaan.

    Ayat Salah Terjemah

    Diantara ayat Al-Qur’an yang dituding berpotensi radikal adalah: QS. Al-Baqarah (2):191. Terjemah Harfiyah Depag: “dan bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah)…”

    Kalimat ‘bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka’, seolah oleh ayat ini membenarkan untuk membunuh musuh di luar zona perang. Hal ini, tentu sangat berbahaya bagi ketentraman dan keselamatan kehidupan masyarakat. Karena pembunuhan terhadap musuh diluar zona perang sudah pasti menciptakan anarkisme dan teror, suatu keadaan yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam.

    Maka Tarjamah Tafsiriyahnya adalah: “Wahai kaum mukmin, perangilah musuh-musuh kalian di manapun kalian temui mereka di medan peran dan dalam masa perang…”

    Ayat Al-Qur’an lain yang dituding berpotensi radikal adalah: QS. Al-Ahzab (33): 61. Adapun Tarjamah Harfiah Depag/Kemenag: “Dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya.”

    Dijelaskan, kalimat dibunuh dengan sehebat-hebatnya dalam tarjamah Depag versi lama, dan dibunuh tanpa ampun dalam tarjemah Kemenag versi baru, keduanya merupakan tarjamah harfiah dari kata quttilu taqtiila, artinya bukan dibunuh, tetapi dibunuh sebagian besar. Kemudia kata sehebat-hebatnya, atau ‘tanpa ampun’ sebagai tarjemah kata taqtiilaa tidak benar. Karena kata taqtiilaa hanya berfungsi sebagai penegasan, bukan berfungsi menyatakan sifat atau cara membunuh yang tersebut pada ayat ini.

    Dijelaskan, Tarjamah Depag maupun Kemenag diatas berpotensi membenarkan tindakan kejam terhadap non-muslim. Padahal Islam secara mutlak melawan tindakan kejam terhadap musuh. Islam sebaliknya memerintahkan kepada kaum muslim berlaku kasih sayang dan adil kepada seluruh uma manusia, sebagai wujud dari misi rahmatan lil-‘alamin.

    Tarjamah Tafsiriyah: “Orang-orang yang menciptakan keresahan di Madinah itu akan dilaknat. Wahai kaum mukmin, jika mereka tetap menciptakan keresahan di Madinah, tawanlah mereka dan sebagian besar dari mereka benar-benar boleh dibunuh dimana pun mereka berada”.

    Dengan dua contoh terjemah ini, membuktikan bahwa tindakan radikal maupun teror yang banyak terjadi akhir-akhir ini, mendapat dukungan dan pembenaran, bukan dari ayat Al-Qur’an, melainkan terjemah harfiyah terhadap ayat di atas, dan hal itu bertentangan dengan jiwa Al-Qur’an yang tidak menghendaki tindakan anarkis. Dan para pelakunya telah menjadi korbanterjemah yang salah ini.

    Ketika Rasulullah Saw dan kaum Muslimin di Madinah, beliau hidup berdampingan dengan kaum Yahudi, Nasrani, Musyrik dan kaum yang tidak beragama, sepanjang mereka tidak menganggu Islam. Apa yang akan terjadi sekiranya Rasulullah memerintahkan pengamalan ayat tersebut sebagaimana terjemahan Al-Qur’an dan Terjemahnya itu.

    Kontroversi terjemah Al-Qur’an versi Kemenag RI, terutama disebabkan oleh kesalahan memilh metode terjemah. Metode terjemah Al-Qur’an yang dikenal selama ini ada dua macam, yaitu terjemah harfiyah dan terjemah tafsiriyah, dan Depag memilih metode harfiyah/tekstual. (Desastian)

    GIMANA NIH.. DI AGAMA ENTE SENDIRI JUGA BANYAK YANG BINGUNG, TERMASUK DEPAG…WKWKWKWKW…

    CAPEDEHHH…

  2. Kontroversi terjemah Al-Qur’an versi Kemenag RI, terutama disebabkan oleh kesalahan memilh metode terjemah. Metode terjemah Al-Qur’an yang dikenal selama ini ada dua macam, yaitu terjemah harfiyah dan terjemah tafsiriyah, dan Depag memilih metode harfiyah/tekstual. (Desastian)

    ======================================================

    KOAR KOAR LU SOAL PERNAJIAN BARU..

    LIHAT TUH..DEPARTEMEN AGAMA ENTE..BUSET DAH…

  3. Itu bukan kesalahan Al-Quran bodoh!!!!, Tetapi itu kesalahan Terjemahan Al-Quran. Orang Islam tidak pernah menyebut Al-Quran terhadap Terjemahan Al-Quran. Ente harus bedakan antara Al-Quran, Tafsir Al-Quran dan Terjemahan Al-Quran.
    DEPARTEMEN AGAMA yang anda katatakan “BINGUNG” bukan mengurus Agama Islam saja, tetapi juga mengurus agama anda. cobalah lihat namanya “DEPARTEMEN AGAMA” bukan “DEPARTEMEN AGAMA ISLAM”.
    Mereka bingung bukan pada menentukan antara salah dan benar tetapi pada yang benar dan yang benar. Andaikata Al-Quran diterjemahkan dengan metode harfiyah itu sudah benar dan dinamakan TERJEMAHAN AL-QURAN. Andaikata Al-Quran ditafsirkan dengan metode tafsiriyah itu pun sudah benar dan dinamakan TAFSIR AL-QURAN BERBAHASA …… (iIndonesia – umapamanya).
    Ach Ente.. jangankan membaca Al-Kitab ternyata membaca media koran saja ndak ibsa paham. capeee deeeh…..
    Yang bilang bahwa kitab agama ente itu ndak benar itu orang-orang yang seagama dengan ente. bukan seagama dengan kami.

  4. Orang-orang yang memahami Al-Quran berdasarkan kepada harfiyah maka akan besar kemungkinan mereka bisa salah dalam memahami. Terjemahannya tetap benar dan memahami dari terjemahan itu banyak yang salah. orang Islam tidak boleh mengambil hukum dari terjemahan Al-Quran yang sudah diterjemahkan. tetapi Al-Quran harus dipahami berdasarkan petunjuk orang-orang yang ahli.
    sudahlah… capee deeh mencari kesalahan dan kelemahan Al-Quran, ngggggaaaaak dapat juga. emang nggaak ada yang salah bagaimana mungkin didapat.
    yang banyak adalah “Kesalahan Memahami Al-Quran bukan “Kesalahan Al-Quran”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: